Yamaha Aerox

Yayuk Basuki: Pembinaan Olahraga Masih Tumpang Tindih

  Sabtu, 13 April 2019   Arie Widiarto
Anggota Komisi X DPR RI Yayuk Basuki menyampaikan paparan dalam diskusi di Pullens Resto Jl Singosari, Semarang, Sabtu (13/4/2019).

SEMARANG SELATAN, AYOSEMARANG.COM-
Keberadaan Undang-undang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) No 3 Tahun 2005, masih belum bisa menjawab sepenuhnya permasalahan olahraga di tanah air. Hal ini disebabkan karena kurangnya koordinasi antar lembaga, tumpang tindihnya lembaga terkait dan buruknya pengawasan lantaran pemerintah berperan sebagai regulator, eksekutor, dan pengawas. 
Hal ini diungkapkan Anggota Komisi X DPR RI Yayuk Basuki dalam diskusi keolahragaan di Pullens Resto Jl Singosari, Semarang, Sabtu  (13/4/2019).
Menurut pendapat mantan petenis profesional andalan Indonesia era 80-90an ini, perhatian pemerintah dalam pemberian penghargaan bagi atlet berprestasi, khususnya untuk pemberian jaminan hari tua masih kurang. Masa depan prestasi olahraga nasional masih belum menemukan arah yang jelas. Momentum kebangkitan olahraga dinilainya hanya sebatas dijadikan seremonial semata. 
Peraih Medali Emas Asian Games Bangkok, Thailand 1997 ini memandang pemberian penghargaan olahraga, baik dalam bentuk pekerjaan maupun jaminan hari tua, bagi olahragawan harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah perlu meningkatkan a|okasi APBN/APBD dalam setiap anggaran tahunan untuk pelaku olahraga yang memajukan prestasi olahraga baik di tingkat daerah, nasional, maupun internasional. 
"Jika kesejahteraan atlit terjamin imbasnya para orangtua pun nantinya akan tenang jika anaknya fokus membina karir sebagai seorang atlit karena masa depan sudah terjamin dan dilindungi undang-undang," paparnya.
Mengenai sarana prasarana,  perempuan dengan nama lengkap Sri Rahayu Basuki ini menyatakan masih terdapat masalah yaitu kurangnya komitmen pemerintah dan pemerintah daerah dalam pemenuhan sarana dan prasarana sesuai standar keolahragaan. Ditambah kurang optimalnya pengadaan dan pemeliharaan sarana prasarana. 
"Saya contohkan di klub Dragon Salatiga yang banyak mencetak atlit-atlit lari tingkat nasional dan internasional fasilitas dan tempat berlatihnya sangat memprihatinkan," ujar dia.
Oleh sebab itu, lanjut Yayuk, ke depan tetap memiliki komitmen memperjuangkan untuk merbaiki tata kelola dunia olahraga nasional demi kesejahteraan atlit nasional yang berprestasi.
Perjuangan tersebut antara lain memberikan dorongan kepada pemerintah untuk merevisi Undang Undang Sistim Keolahragaan Nasional (UU SKN) saat ini.
Agar gaung ini lebih kuat, Yayuk pun menggandeng rekan-rekannya dari IOA (Indonesian Olympic Association) dan WOA (World Olympic Association).
"Tidak banyak pasal yang akan diubah, hanya yang urgent saja, salah satunya adalah mengenai jaminan tunjangan hari tua atlit atau istilahnya kesejahteraan bagi atlit," tegasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar