Yamaha NMax

Mengagas Pendidikan Antiterorisme

  Kamis, 23 Mei 2019   
Ariyadi

Belum lekang dalam benak kita pedihnya luka bom di Mako Brimob beberapa bulan yang lalu, juga disusul serentetan bom di Surabaya.

Kabar mengejutkan kembali mengusik rasa aman masyarakat dengan penggerebekan teroris di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Penggerebekan dilakukan dibeberapa wilayah mulai Grobogan, Kudus, Sukoharjo, Semarang, dan Gresik.

Yang lebih mencengangkan lagi oknum yang menjadi target penggerebekan adalah pengurus RT. Peristiwa ini secara pasti terbeban di masyarakat dengan munculnya rasa takut dan khawatir.

Melihat dinamika ini penulis sebagai pendidik merasa harus berbuat sesuai dengan kapasitas kami sebagai profesi yang menerima mandat dalam merubah tatanan perilaku moral peserta didik terutama hal krusial yang dapat merubah mind set salah terhadap apapun aksi teror dengan dalih apapun termasuk membawa ranah agama sebagai orientasinya.

Mengatasnamakan agama sebagai landasan atas perbuatan yang salah merupakan bagian dari rendahnya pola pikir dan pemahaman diri seseorang dalam memahami wahyu.

Aksi teror seolah menjadi hal yang familier bagi masyarakat terlebih indonesia sebagai bangsa yang heterogen tentu singgungan hal-hal yang berbau SARA sangat sensitif dan dapat memantik api emosional yang berlebih.

Dalam keterangannya Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa terorisme juga terjadi hampir disetiap wilayah belahan dunia manapun. Pesan ini logis dapat kita jadikan referensi bahwa setidaknya saat ini tidak hanya Indonesia yang sedang berjuang, bekerja keras melawan aksi terorisme.

Aksi terorisme menjadi mind set yang salah dengan dalih apapun, apalagi jika sampai mengorientasikan aksi tersebut pada fatwa suci agama. Tentu kita sepakat, tidak ada satu agamapun yang membolehkan umatnya berbuat aksi teror kepada siapapun. Logisnya, segala bentuk teror sudah pasti melanggar norma agama.

Perpu Antiterorisme, Perlukah?

Aksi teror beruntun yang menghiasi diberbagai media, baik media cetak, media elekltronik ataupun media sosial secara pasti mempengaruhi pola pikir dan sudut pandang bagi siapapun yang menjadi konsumen berita tersebut.

Tidak terkecuali peserta didik yang notabenenya merupakan pengguna media sosial aktif yang setiap saat dapat mengakses sumber berita ter-update.

Jika dirunut tentang hal ikhwal sejauh mana campur tangan pemerintah dalam menanggulangi aksi terorisme adalah sejak adanya revisi UU antiterorisme yang sampai sekarang belum menemukan titik purna keputusannya.

Dalam kesempatan yang lain, kembali Presiden Joko Widodo menyampaikan rasa geramnya betapa lambat kinerja elit negeri ini bahgkan Presiden mengancam akan menerbitkan Perpu (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang) Antiterorisme jika dalam masa sidang bulan Juni mendatang belum juga final pembahasan RUU Antiterorisme ini.

Sebagai pendidik yang hampir setiap saat bersinggungan dengan perilaku peserta didikĀ  maka setidaknya gagasan ini akan mampu menjadi formula sekaligus menjadi benteng agar segala bentuk aksi terorisme akan mampu terfilter oleh peserta didik.

Unsur pertama, guru sebagai garda depan dalam dunia pendidikan sudah sepatutnya memiliki visi yang sama. Y akni dengan menyatupadukan harapan tindakan teror tidaklah perlu mendapatkan respons berlebihan.

Jika hal ini kita tanggapi sebagai sesuatu yang paling menakutkan, maka aksi susulan teror akan terus menghantui masyarakat kita. Unsur kedua yang akan mampu membentengi pola pikir peserta didik terhadap aksi teror adalah sekolah.

Unsur ketiga dalam upaya membentengi dan memutus mata rantai terorisme adalah keluarga. Keluarga yang memiliki kapasitas waktu lebih panjang sudah sapatutnya mampu menjadi sarana ampuh dalam memutus mata rantai aksi terorisme.

Unsur keempat adalah lingkungan masyarakat yakni masyarakat yang berorientasi pada sisi religius. Masyarakat Muslim hendaknya memusatkan segala bentuk ketidaktahuannya terhadap nilai-nilai agama berorientasi pada masjid setempat untuk mendapatkan solusi tepat tentang bahaya aksi terorisme.

Keempat unsur ini jika tersusun sistematis baik di lingkungan sekolah ataupun masyarakat secara pasti akan mampu menangkal bahaya pola pikir yang membolehkan aksi teroroisme.

Ariyadi, S.Pd.i

Guru SMA Islam Al Azhar 15 Kalibanteng Semarang

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar