Yamaha NMax

Toleransi Agama dan Persaudaraan

  Sabtu, 25 Mei 2019   Adi Ginanjar Maulana
Toleransi

Indonesia merupakan negara majemuk yang diperkirakan terdiri dari 1.340 suku, 7.241 karya budaya, 742 bahasa, dan bermacam-macam agama maupun penganut kepercayaan, adanya perbedaan itulah, yang menjadi salah satu keunggulan Indonesia, jika dibandingkan dengan negara lain.

Namun, kehadiran perbedaan tersebut terkadang menjadi alasan terjadinya konflik dan perseteruan, beberapa diantaranya mungkin masih kita ingat, misalnya tentang peristiwa penyerangan terhadap para jemaat Gereja St Lidwina di Sleman, saat ibadah misa berlangsung pada hari Minggu, 11 Februari 2018 yang mengakibatkan 5 orang terluka.

Ingatan kita juga mungkin masih merekam jelas, tentang kisah ibu Meiliana yang harus mendekam di penjara selama 1 tahun 6 bulan, hanya karena menyatakan volume speaker yang digunakan saat azan semakin keras, setelah sebelumnya, ia dihakimi oleh sekelompok warga, bahkan massa tersebut juga turut merusak 3 vihara, 8 klenteng, 2 yayasan tionghua, termasuk rumah tempat tinggal ibu Meiliana.

Baru-baru ini kita juga dikagetkan dengan peristiwa lain yang sama memprihatinkannya, tentang adanya pemotongan nisan salib di Purbayan, Yogyakarta. Belum lagi, adanya penolakan keras mendirikan rumah ibadah selain Masjid di beberapa daerah di Indonesia, dan mungkin sebenarnya masih banyak peristiwa intoleransi dan diskriminasi lainnya. Selama tahun 2017 saja, laporan dari Setara Institut menyatakan bahwa telah terjadi 80 pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan, kemudian di tahun 2018, pelanggaran meningkat menjadi 109 kasus. Setidaknya, keadaan ini membuat kita bertanya-tanya, apakah kasus intoleransi yang terjadi merupakan cermin dari sikap masyarakat yang keliru memahami keyakinannya?

Dikutip dari tirto.id, PBB dalam "Declaration on the Elimination of All Forms of Intolerance and of Discrimination Based on Religion or Belief", intoleransi diartikan sebagai setiap pembedaan, pengabaian, larangan atau pengutamaan yang didasarkan pada agama atau kepercayaan yang tujuannya atau akibatnya meniadakan atau mengurangi pengakuan, penikmatan, atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan mendasar atas dasar yang setara.

Menurut survei yang dilakukan Wahid Institute pada tahun 2018, situasi intoleransi di Indonesia sudah mencapai angka 50%, uniknya, sikap intoleran itu terjadi bukan hanya dengan orang yang berbeda agama, melainkan juga terjadi antara mereka yang punya keyakinan sama tapi beda dalam menafsir makna, keadaan ini menjadi semakin mengkhawatirkan, tatkala banyak tokoh-tokoh keagamaan yang seharusnya memberikan nasihat perdamaian justru turut menyulut api kebencian. Situasi ini, menciptakan efek yang rawan, banyak orang yang memilih teman sesuai dengan kesamaan keyakinan, banyak pula orang yamg enggan untuk sekedar bertegur sapa karena perbedaan agamanya, banyak orang saling memusuhi, saling mencurigai, dan saling mencari-cari titik kesalahan.

Padahal, agama merupakan ajaran suci yang lahir untuk memberikan pendidikan kepada manusia supaya menciptakan hubungan baik dengan lingkungan sosial, dengan alam, juga dengan sang Pencipta, maka mestinya orang yang beragama (terlepas apapun agama nya) merupakan orang yang memiliki semangat perdamaian yang kokoh, sebab imannya menuntun ia untuk yakin bahwa apapun yang diciptakan-Nya merupakan bagian dari makna kehidupan yang berarti, bagai pelangi yang beraneka warna namun berhasil menghiasi langit dengan begitu indahnya, hingga tak pantas, jika perasaan saling mengungguli dan meniadakan itu tertanam dalam hati, membekas dalam jiwa, lalu perlahan menuntun tindakan untuk melakukan sesuatu yang tidak berperikemanusiaan.

Perlu kita ingat, pada hakikatnya, manusia itu bersaudara, kita berasal dari keluarga adam dan hawa yang kemudian menciptakan keluarga baru yang tersebar di seluruh semesta, kemudian kita pun hidup berdasarkan pengaruh lingkungan sosial kita, meskipun tidak sepenuhnya, sebagian besar pemahaman kita terbentuk berdasarkan budaya, adat, dan kebiasaan di sekitar kita, termasuk tentang apa yang baik dan buruk, apa yang benar dan salah, dan nilai-nilai yang lainnya. Semua itu, memberikan gambaran utuh, bahwa tidak semua “hal baik” dalam satu pemahaman, merupakan “hal baik” untuk pemahaman yang lain, begitu pula sebaliknya, tidak semua “hal buruk” dalam satu keyakinan, adalah “hal buruk” dalam keyakinan yang lain, sebab kita punya interpretasi masing-masing, dan itu merupakan bagian dari hak dasar manusia untuk meyakini, yang tidak dapat diganggu.

Sebagai contoh, seekor sapi bagi umat hindu merupakan simbol kesucian, hingga tidak boleh dinodai, namun, bagi umat islam sapi merupakan hewan yang dianjurkan untuk disembelih pada hari raya idul adha, kedua pemahaman tersebut tentu saja berasal dari dasar ajaran yang kuat, namun, keadaan itu bukan berarti menjadi sebuah fasilitas untuk saling membenarkan atau menyalahkan, masing masing umat berhak untuk memilih dan menjalankan sesuai dengan apa yang diyakininya, selebihnya cukup saling menghormati satu sama lain.

Jika perbedaan adalah sebuah keniscayaan dan merupakan bagian dari kehidupan, untuk apa kita repot untuk saling meniadakan? Bukankah sikap tersebut merupakan sikap yang arogan dan justru tidak mensyukuri karunia yang diberikan Tuhan. Maka baiknya, dari pada kita sibuk untuk menghakimi orang dalam keyakinan yang lain, sibuk mendiktenya, mungkin akan lebih bermanfaat jika kita mencoba mengevaluasi diri kita masing-masing, sudah benarkah proses ibadah kita? Sudah sempurna kah perjalanan spiritual kita? Sudah banyakkah pahala kita? Kita kan tidak tau, maka ketidaktahuan itulah yang semestinya menjadi dasar untuk terus memperbaiki diri, mengkaji apa yang kita yakini, hingga esensi dari beragama itu benar benar kita rasakan, tak ada ajaran dengan kebencian, sebab kita hidup untuk mencapai kesejahteraan.

Yumna Qatrunnada
Mahasiswa Jurnalistik Ilmu Komunikasi Universitas Pendidikan Indonesia

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar