Yamaha NMax

Indonesia Terus Kejar Revolusi 4.0, Jepang Sudah 5.0?

  Senin, 27 Mei 2019   Adi Ginanjar Maulana
Sumber foto: ebook 'Realizing society 5.0'

Teknologi sudah tak asing lagi bagi kita untuk dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi pun telah masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan kita. Setiap orang pasti menggunakan teknologi dalam aktivitasnya.

Sesuai tujuan awal terciptanya, t eknologi adalah alat yang digunakan untuk mempermudah aktivitas dan membuat pekerjaan manusia menjadi lebih efektif dan efisien. Hal tersebut yang membuat Teknologi akan terus ada dan tak dapat kita hindari.

Pada mulanya teknologi hanya berupa kapak yang terbuat dari kayu dan batu yang digunakan untuk memburu dan memecahkan sesuatu. Seiring berjalannya waktu dan kebutuhan manusia yang terus meningkat, teknologi terus mengalami perkembangan yang pesat dan signifikan di setiap harinya.

Saat ini, setiap hari kita pasti bersentuhan dengan teknologi, baik untuk bekerja atau hanya sekedar berkomunikasi dan melepas lelah. Karena begitu pentingnya, hal itu membuat teknologi mampu mengubah cara pikir dan pola kerja kita, bahkan teknologi mampu mengubah suatu tatanan atau sistem yang ada di masyarakat saat ini.

Teknologi yang berkembang begitu pesat dan berperan penting, hingga para ahli dunia membuat garis waktu tentang perkembangan dari teknologi tersebut. Dimulai dari revolusi industri 1.0 yang ditandai dengan ditemukannya mesin uap, lalu revolusi industri 2.0 yang ditandai dengan ditemukannya elektrifikasi atau listrik, lalu revolusi industri 3.0 yang ditandai dengan ditemukannya komputer lalu saat ini revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan ditemukannya internet dan teknologi digital.

Revolusi industri 4.0 dikemukaan oleh seorang ekonom terkenal asal Jerman, Profesor Klaus Schwab yang ditulis di dalam bukunya yang berjudul “The Fourth Industrial Revolution”. Ungkapan mengenai Revolusi Industri 4.0 itu, menghebohkan dunia dan cepat tersebar oleh media massa dan media online.

Ada yang menyebutkan Revolusi Industri 4.0 adalah era distupsi (era perubahan terdasar),  di mana banyak tatanan kehidupan masyarakat lama dunia yang berubah dan membentuk tatanan baru yang disebabkan oleh teknologi.

Selain itu, telah banyak terjadi hilangnya jenis pekerjaan lama dan terbentuknya jenis pekerjaan yang baru seperti hilangnya pekerjaan pengantar koran, teller bank, kasir yang digantikan oleh teknologi. Hal itu tentu akan membuat keefisienan dan kemajuan besar di berbagai bidang, baik pemerintahan,pendidikan, transportasi dan lain-lain.

Peluang kemajuan yang ditawarkan dari teknologi di Revolusi industri 4.0 ini membuat setiap negara berlomba-lomba mengejar setiap elemen dari teknologi tersebut, termasuk Indonesia. Hal itu dapat dilihat dari diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi)pada acara Industrial Summit 2018 yang dilangsungkan pada 4 april 2018 di Cendrawasih Hall, Jakarta.

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi menetapkan agenda nasional bangsa Indonesia yaitu “Making Indonesia 4.0” dengan Kementrian Perindustrian sebagai leading sector atau sektor pimpinan.

Menurut Presiden Jokowi, sebagai langkah awal, bidang yang ingin digerakan sebagai agenda nasional “Making Indonesia 4.0” adalah bidang kuliner (makanan dan minuman), bidang tekstil, bidang otomotif, bidang elektronik, dan bidang kimia. Kelima bidang tersebut dapat menjadi tulang punggung bangsa dan dapat memberikan kontribusi yang besar bagi Indonesia.

Presiden RI ke- 7 itu pun berharap dengan mengejar Revolusi Industri 4.0, Indonesia dapat menjadi top 10 ekonomi global pada 2030. Indonesia bisa meningkatkan kelima bidang tersebut dan meningkatkan jumlah ekspor sebagai upaya peningkatan inovasi dan adopsi teknologi.

Namun dibalik pesatnya teknologi di Revolusi Industri 4.0 ini, ada hal yang perlu diperhatikan dan dikhawatirkan, yaitu hilangnya peran manusia sebagai pusat kendali dari teknologi. Sehingga teknologi dapat mengambil alih kehidupan manusia dan membuat tatanan masyarakat berubah menjadi kacau.

Hal ini diperkuat dengan prediksi yang diungkapkan oleh McKinsey Global institute, yang menyebutkan bahwa Revolusi Industri 4.0 akan menghilangkan kurang lebih 800 juta lapangan kerja dan digantikan oleh robot serta mesin”.

 

 

Jika dilihat garis waktu tentang cara hidup masyarakat dari tiap zamannya, teknologi terbukti mampu membuat suatu perubahan tatanan cara hidup suatu masyarakat.

Semua itu dimulai dari Society 1.0. Teknologi yang ada pada saat itu berupa tombak, kapak, dan alat berburu lainnya. Masyarakat pada Society 1.0 adalah masyarakat yang nomaden dan berburu.

Lalu dilanjutkan oleh Society 2.0. Teknologi sudah ditemukan alat bertani dan bercocok tanam. Masyarakat yang hidup pada Society 2.0 pun telah menetap dan bercocok tanam.

Setalah itu ada Society 3.0, dengan sudah ditemukannya teknologi mesin uap dan listrik, yang kemudian membentuk masyarakat industrial.  Lalu saat ini kita memasuki Society 4.0, yang ditandai dengan adanya teknologi berupa komputerisasi dan Internet. Namun dikhawatirkan ke depannya masyarakat informasi akan membuat ketidakseimbangan dan perubahan yang tak pasti di dalam tatanan hidup masyarakat terkhusus di bidang sosial.

Ketika Indonesia dan dunia heboh dengan berita dan isu mengenai Revolusi Industri 4.0 dan era disrupsi. Jepang secara mengejutkan telah meluncurkan sebuah roadmap tentang perkembangan teknologi di masa depan, yang disebut dengan “super smart society” atau “Society 5.0”. Hal tersebut diumumkan pada 21 januari 2019 oleh kantor perdana menteri Jepang.

Society 5.0 ini sebuah roadmap mengenai kecerdasan buatan yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi dengan menggabungkan IoT (internet of things), Big Data, dan AI (antificial intellegence/kecerdasan buatan). IoT berfungsi untuk menghubungkan data yang satu dengan yang lainnya yang bersumber pada data manusia itu sendiri (human center), lalu akan digabungkan ke dalam satu himpunan besar yang utuh (big data).

Ketika sudah terhimpun, AI atau kecerdasan buatan akan menjalankan fungsinya dalam menentukan keputusan yang diambil. Sebagai contohnya, ketika ada isu yang mengungkapkan bahwa pekerjaan dokter akan terdisrupsi oleh robot, pada era Society 5.0 ini data yang telah terhubung (IoT) akan terhimpun pada sistem (big data), membuat dokter dan pasien mampu berobat secara tatap muka maupun secara online sehingga memudahkan untuk mengkontrol kesehatan pasien.

Society 5.0 memberikan sentuhan humanis dalam berteknologi, dengan memproritaskan sisi kemanusiaan dengan mengubah bentuk jutaan data yang dihimpun dalam suatu sistem besar dan terhubung pada Internet untuk segala jenis bidang.

Roadmap Society 5.0 yang diungkapkan oleh Jepang ini, seakan mampu menjawab kegelisahan masyarakat mengenai isu tentang kelangsungan hidup dan peran manusia yang berkurang dan hilang di masa depan.

Society 5.0 diharapkan mampu menyelesaikan masalah di tengah masyarakat yang timbul akibat ketidakseimbangan antara teknologi yang berkembang sangat pesat dan kemampuan manusia yang terbatas. Society 5.0 mampu membuat perubahan tatanan masyarakat baru yang baik.

Teknologi juga diharapkan mampu melaksanakan fungsinya sebagaimana mestinya, yaitu hanya sebatas alat untuk mempermudah tugas manusia. Sehingga manusia dapat menjalankan hidupnya dengan baik dan lebih bermakna.

Ungkapan mengenai Society 5.0 membuktikan bahwa Jepang memiliki solusi mengenai manusia dan teknologi di masa depan. Hal ini juga membuktikan bahwa Jepang berada selangkah atau beberapa langkah lebih maju dari Indonesia, bahkan dunia.

Rika Ayu Novitasari

Mahasiswa Universitas Padjadjara

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar