Yamaha NMax

Ruang Pompa Perilaku Literasi

  Senin, 03 Juni 2019   Adi Ginanjar Maulana
Literasi

Kehadiran Ramadan tentu memberi manfaat besar untuk anak. Selain mendidik secara dini menyukseskan puasa mereka, yang tidak kalah penting adalah menguatkan implementasi literasi secara masif. 

Keterwujudan literasi secara masif di bulan Ramadan, bisa kita lihat dari ragam kolom ramadan yang dimunculkan oleh redaktur yang bagi penulis mempunyai fungsi literasi. Tujuannya, agar saat menjalankan ibadah puasa, tausiah, bingkai informasi, hingga kejadian unik bisa dibaca 

Kehadiran kolom Ramadan di berbagai media, dari sisi pendidikan literasi mengajak, memberi peluang kepada akademisi, tokoh agama dan para pakar, menuliskan hal ihwal terkait hakekat ramadan dalam konteks ilahiyah maupun muammalah. Sehingga pesan “Takwa” yang tersurat dalam Alquran bisa terimplementasi secara personal menjadi karakter. 

Sudah saatnya pula, pesan terdalam tentang hakekat puasa bisa tersampaikan secara masif melalui berbagai cara. Salah satunya melalui kolom ramadan yang disajikan media. 

Apalagi, literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga disimpulkan sebagai kemampuan memanfaatkan hasil bacaan tersebut untuk kecakapan hidup pembacanya.

Sekolah dan Literasi

Jika di kolom media pendidikan literasi sudah tersaji dengan baik dan terencana, lalu bagaimana dengan sekolah terhadap para siswa dan stakeholdernya? Pertama, pelaksanaan literasi di bulan ramadan bisa dimasukkan dalam rumpun kegiatan keagamaan. 

Sebagai contoh dengan menyisipkan gerakan menulis sebagaimana yang pernah penulis lakukan di SMP Islam ternama di Semarang, berupa penulisan “Sajak” secara massal dan spontanitas pada tahun 2018 hingga kemudian berbuah buku “Antologi Sajak Pendek untuk Ramadan”. 

Adapun pada 2019-nya, inisiatif literasinya terwujud melalui penulisan “Kata Mutiara” baik secara massal dan spontanitas pula, hingga kemudian berwujud buku “Antologi Kata Mutiara” untuk diterbitkan dalam skala besar. 

Terwujudnya literasi tersebut, dilakukan saat kegiatan pesantren Ramadan. Tujuannya, satu sisi menyisipkan menulis sebagai bagian tidak terpisahkan dari kampanye literasi secara masif. 

Sisi lain, membangun karya bersama itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana, dan dekat dengan aktivitas mereka. Terlebih, tidak hanya sekolah swasta saja yang menyelenggarakan pesantren ramadan, melainkan negeri juga ikut melaksanakan walau dengan kemasan yang berbeda dari segi durasi waktu.

Kedua, literasi melalui buku kegiatan ramadan. Hanya saja, banyak lembaga pendidikan yang lupa melakukan hal itu. Padahal lewat buku kegiatan ramadan berbagai hal bisa dicatat. Sebagai contoh, materi kuliah tujuh menit (kultum) yang disampaikan kyai/tokoh agama –jeda– sebelum ditutup dengan sunah witir atau waktu salat lainnya bisa dicatat dengan baik oleh anak.

Hadirnya buku panduan kegiatan ramadan –walau PR dari sekolah– menjadi simbol bahwa budaya literasi perlu dihadirkan kapan saja. Terlebih, melimpah ruahnya materi keagamaan yang disampaikan oleh para pemuka agama akan sia-sia bila tidak dicatat. Tentu bila itu dicatat secara baik oleh anak, akan mendidik mereka menjadi pribadi yang punya kecakapan menulis. 

Apalagi, banyak penerbit buku mencari penulis cilik yang mafhum dikenal dengan kecil-kecil punya karya (KKPK).  Karena untuk menjadi penulis sejati, rumusnya menurut Supadiyanto (2012:42) hanyalah dengan banyak berlatih menulis.

Selain mencatat materi, buku kegiatan ramadan juga berisi tentang kegiatan (amaliah) positif anak. Mulai dari catatan salat fardu lima waktu, sunah, hingga tadarus Alquran yang perlu dilakukan untuk kemudian dicatat. 

Tentu secara positif, literasi yang dimaksud bukan hanya dengan menyimpulkan materi ceramah saja, melainkan juga merekam aktifitas positif anak secara mandiri melalui catatan.

Selain untuk melatih menulis anak, buku panduan kegiatan Ramadan juga dalam rangka fungsi sosial. Yakni, saling mengenal siap yang memberikan ceramah saat kultum usai. 

Karena, hal yang harus dilakukan usai mencatat inti ceramah, adalah anak meminta tanda tangan penceramah. Selain itu, momen idul fitri –yang akan datang– keberadaan buku catatan tersebut juga bisa digunakan untuk mengawal silaturahmi dengan para guru-guru mereka. 

Sebagaimana yang dilakukan oleh sekolah Attanwir Talun, Sumberejo. Yang perlu ditambahkan adalah, kolom catatan wejangan perlu diberikan disamping permintaan tanda tangan. 

Alhasil, bila sudah ada budaya literasi yang dilakukan oleh anak melalui penggambaran di atas, tugas orang tua hanyalah perlu mengecek untuk membantu menyukseskan mana isian yang dirasa belum tuntas oleh anak saat bulan Ramadan dan setelahnya.

Bantuan kecil itu akan membuktikan bahwa orang tua juga turut aktif melakukan kontrol kepada anak, agar budaya literasi selama berada dirumah berjalan maksimal. 

Akhirnya, gerakan literasi nasional (GLN) sejak 2016 dicanangkan, merupakan upaya untuk menyinergikan semua potensi serta memperluas keterlibatan publik dalam pengembangan budaya literasi dalam segala waktu dan bidang kegiatan pendidikan.

Artinya, GLN harus dilaksanakan secara masif, baik di dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat terlebih di bulan suci ramadan kali ini. Salam literasi.

Roin Usman
Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jateng

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar