Yamaha NMax

Polusi Udara dan Masalah Kendaraan Bermotor

  Rabu, 12 Juni 2019   Adi Ginanjar Maulana
Kemacetan yang terjadi berimbas pada polusi udara.(Djoko Subinarto)

Salah satu problem lingkungan yang dihadapi kota-kota kita dewasa ini adalah polusi udara. Meningkatnya penggunaan kendaraan bermotor pribadi bukan hanya berimbas pada bertambahnya tingkat kemacetan, tetapi juga bertambah kotornya udara di sekitar kita. 

Sejauh ini, terdapat beberapa polutan utama yang mencemari dan menurunkan kualitas udara kawasan perkotaan di negeri ini yakni nitrogen dioksida (NO2), nitrat oksida (NO), partikel debu, karbon monoksida (CO) serta timbal (Pb). Zat-zat polutan tersebut sebagian besar dihasilkan oleh proses pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor. 

Nitrogen dioksida, nitrat oksida, partikel debu serta karbon monoksida dapat mengiritasi paru-paru dan menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan infeksi pernafasan, dapat mengakibatkan pembengkakan paru-paru dan gangguan jantung serta meningkatkan risiko kanker paru. 

Sementara itu, timbal berpotensi membuat terjadinya penurunan fungsi mental, mengganggu fungsi ginjal, mengganggu saluran pencernaan, menurunkan fertilitas dan berpotensi menurunkan kecerdasan anak–anak serta memicu kerusakan saraf otak. Dengan demikian, anak-anak yang kerap menghirup udara yang telah terkontaminasi timbal diyakini kecerdasan otaknya akan menurun.

Tidak cuma itu. Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa pencemaran timbal memiliki kontribusi bagi meningkatnya tindak kriminal. Salah satunya adalah kajian yang dilakukan oleh Roger D Masters (2007) dari Dartmouth College yang kemudian dipublikasikan oleh Breach Publisher dengan tajuk “Environmental Pollution, Neurotoxity and Criminal Violence.” 

 

 

Dalam kajiannya, Roger D Masters menyimpulkan sejumlah hal sebagai berikut. Pertama, sebagian besar mereka yang melakukan aksi kriminal ternyata adalah mereka yang lebih banyak menghirup polutan, khususnya timbal. Kedua, paparan timbal pada anak-anak ternyata terkait dengan meningkatnya tindakan agresif dan kenakalan di usia remaja. Ketiga, timbal yang terhirup menyebabkan terjadinya perubahan pada perkembangan otak anak-anak serta mengganggu fungsi neurotransmitter dalam otak dan menyebabkan mereka mudah kehilangan kontrol impulsif sehingga gampang menyulut perilaku agresif.

Dalam menghadapi problem peningkatan pencemaran udara ini, para pengelola kota kita diharapkan segera mengambil langkah nyata. Salah satunya adalah dengan mewujudkan sistem transportasi massal yang benar-benar murah, aman serta nyaman. Adanya transportasi massal yang murah, aman serta nyaman diharapkan akan menurunkan transportasi berbasis kendaraan pribadi yang pada gilirannya bakal ikut menurunkan tingkat polusi udara dan kemacetan.

Memperbanyak hutan kota adalah langkah lain untuk mengurangi kadar polusi udara. Hutan kota dengan berbagai pohonnya bisa menjadi penabir bagi polutan jenis partikel seperti debu serta asap yang sangat membahayakan paru-paru. Selain itu, pohon juga menyerap karbon dioksida dan zat-zat beracun lainnya. Di sisi lain, pohon memasok oksigen yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia.

Yang juga tidak kalah penting adalah memasyarakatkan gerakan bike to work dan bike to school.  Khusus menyangkut sekolah, akan lebih baik jika seluruh pengelola sekolah di kota-kota kita membuat aturan tegas yang melarang para siswanya membawa kendaraan bermotor ke sekolah. 

Di sisi lain, kebijakan dan program untuk membatasi kendaraan bermotor pribadi yang melintas di tengah kota juga layak dipikirkan. Bagaimanapun, kota yang sehat dan keren adalah kota yang penduduknya lebih banyak berjalan kaki dan bersepeda. Bukan kota yang disesaki mobil dan sepeda motor.

Djoko Subinarto

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar