Yamaha Aerox

Nelayan Tanpa Bahan Bakar ?

  Kamis, 27 Juni 2019   Adi Ginanjar Maulana
Foto udara kapal nelayan bersandar di Pelabuhan Tegal, Jawa Tengah, Senin (10/6/2019). (Antara)

Catatan Kementerian Kelautan Perikanan soal NTN (Nilai Tukar Nelayan) yang naik sebesar 0,64% pada Mei (113,08%) jika dibandingkan dengan Mei di tahun sebelumnya (112,36%). Dari data tersebut diasumsikan bahwa daya beli nelayan pada bulan Mei 2019 semakin membaik dari tahun sebelumnya.  

Akan tetapi, jika kita menilik keadaan nelayan di Kota Semarang tepatnya di kampung Tambak Lorok, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara kita akan mendapati keluhan dari nelayan tentang ketersediaan bahan bakar untuk melaut. 

Tentu sangat disayangkan, ketika prestasi nasional tersebut tidak dibarengi dengan kesuksesan dalam memenuhi kebutuhan nelayan yang terbilang berada di perkotaan.

Kampung Tambak Lorok sendiri merupakan perkampungan nelayan terpadat di Kota Semarang, akan tetapi di sana tidak ada SPBN (Statiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan) yang aktif mencukupi kebutuhan nelayan. 

Tentu menjadi catatan tersendiri ketika perkampungan yang padat nelayan saja bahan bakarnya belum diperhatikan, lantas bagaimana dengan daerah yang sekiranya jumlah nelayannya sedikit?

Layaknya pakan pada pembudidaya, bahan bakar adalah komponen penting penunjang operasional nelayan yang tentunya menyangkut keberlangsung hidup keluarga nelayan. Saat ini rata-rata kapal nelayan membutuhkan 30 – 60 liter/hari/trip melaut, besaran kebutuhan bahar bakar tergantung dengan kondisi cuaca serta jenis alat tangkap. 

Adapun jumlah nelayan menurut BPS (2011) di Kelurahan Tanjungmas adalah 2.345 nelayan atau terbesar di Kota Semarang (Jurnal Teknik PWK Undip Volume 1 2014) sedangkan pada tahun 2018 menurut Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang, I Gusti Made Agung di Kota Semarang ada 1.100 nelayan (Akurat.co 25/2/2018). Dari data-data tersebut dapat kita lihat penurunan drastis jumlah nelayan di Kota Semarang. 

Hal tersebut mungkin terjadi karena tidak tercukupinya bahan bakar sehingga menjadikan pekerjaan nelayan terhambat, kemudian nelayan lebih memilih pekerjaan yang lainnya. 

Bahan bakar merupakan input produksi yang peranannya bisa mempengaruhi keberlangsungan usaha perikanan, terlebih saat ini Kota Semarang produksi perikanannya belum mencukupi kebutuhan. Sehingga masih membutuhkan suplai dari daerah lain seperti Pati, Rembang, Batang dan dari daerah Jawa Timur.

Karenanya, sangat penting untuk diperhatikan adanya pembangunan SPBN di Kampung Tambak Lorok agar nelayan tidak lagi kesulitan dalam mendapatkan bahan bakar. 

Sehingga produksi perikanan Kota Semarang bisa tumbuh yang tadinya hanya 25% dari kebutuhan minimal bisa mencapai 50% secara bertahap. Jika hal ini dapat terwujud, maka nelayan akan terkurangi bebannya sehingga bisa dengan mudah melangsungkan kegiatan usaha penangkapan ikan.

Hendra Wiguna
Humas KNTI Semarang

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar