Agar Siswa Berhasil Belajar

  Sabtu, 03 Agustus 2019   Adib Auliawan Herlambang
Usman Roin

Kehadiran Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) yang menghebohkan (atas berbagai fenomena yang ada) menjadi pertanda yang unik bagi penulis, bahwa semangat belajar siswa milenial begitu tinggi. Hal ini telah dibuktikan dengan rampung-nya proses pemilihan sekolah oleh calon siswa di semua jenjang baik swasta atau negeri.

Hanya saja, setelah anak diterima di lembaga yang telah dipilih, tentu ada konsekuensi lanjutan untuk bisa berhasil belajar dari sekolah yang menjadi tujuannya. Apalagi, dengan sistem zonasi yang diterapkan oleh Kemendikbud telah membuka keran luas bahwa potensi siswa berprestasi dan yang memiliki kelebihan kecerdasan merata dimiliki oleh sekolah. PR-nya adalah, sejauh mana lembaga pendidikan berhasil menjadikan siswa “unggul” sebagai instrumen belajar untuk siswa lain? Lalu bagi siswa  bagaimana membuktikan bahwa “milenialis” yang mereka sandang hari ini adalah sosok pembelajar sejati!

Dua hal di atas menjadi penting untuk dijawab guna mengondisikan belajar “calon hingga yang sudah berstatus siswa” berhasil melalui sekolah yang telah dipilih. Sehingga alasan karena salah pilih sekolah tidak berakibat fatal terhadap semangat belajar mereka. Terlebih menurut Prof Dr H Syaiful Sagala S Sos MPd (2017:287), jika salah urus, maka kehidupan manusia itu dapat terombang-ambing ke arah yang negatif yang dapat mencelakakan dan menjerumuskan diri manusia ke jurang anti-sejahtera dan anti-bahagia. Alhasil, mengondisikan filosofis belajar sepanjang hayat kepada calon siswa adalah pilihan bijak untuk mencapai keberhasilan pendidikan.

Langkah sekolah, orang tua dan siswa

Guna menjawab fenomena di atas, hal utamanya sekolah harus mencermati potensi yang dimiliki oleh calon siswa. Hal itu bisa dilihat dari rekam jejak saat PPDB sebagai pintu awal melihat sejauh mana potensi yang dimiliki untuk kemudian dibesut, dikembangkan menjadi embrio “pembelajar” untuk yang lain. Ini karena penyebaran siswa prestatif dimungkinkan “merata” di semua sekolah dengan adanya zonasi. Jika hal ini tidak ditangkap dengan baik Kepala Sekolah beserta stakeholder yang ada, penyebaran siswa prestatif tersebut hanya sia-sia belaka. Yang ada hanya akan menenggelamkan kelebihan yang mereka miliki pada asumsi pilihan sekolah yang salah. Akibatnya, disorientasi belajar akan terjadi dan menjadi rintangan awal bila tidak diselesaikan oleh pihak sekolah.

Jika melihat analisa ini, sudah seharusnya sekolah merumuskan di awal tahun pelajaran akan berbagai kelebihan dan kekurangan yang dimiliki input peserta didiknya. Tujuannya, untuk menyamakan presepsi bahwa sekolah perlu mengantarkan keberhasilan belajar anak melalui aktivitas yang dimiliki. Sekolah juga perlu merumuskan secara kreatif agar keberhasilan belajar siswa menjadi komponen yang harus di goal-kan. Sehingga paradigma positif masyarakat secara luas akan mulai terbangun, bahwa sekolah favorit itu merata adanya, tidak terkooptasi oleh sekolah tertentu, melainkan sudah menjadi paradigma sekolah secara masif. Sehingga, peluang dan tantangan untuk membangun pendidikan bisa dilakukan oleh semua lembaga pendidikan. Pertanyaannya, mau atau tidak lembaga pendidikan melakukan hal ini?

Dari sisi orang tua, menyiapkan anak belajar dengan baik di manapun tentu harus diniatkan terlebih dahulu. Hal itu bisa dilakukan dengan mengontrol sejauh mana keinginan belajar di sekolah yang dipilih untuk kemudian tidak menjadi alasan tidak semangat untuk belajar. Jika tahapan ini sudah, maka profil sekolah juga perlu diketahui oleh orang tua, bagaimana budaya yang dibangun, track record prestasi, kualifikasi guru hingga kualitas alumni. Sehingga pada posisi ini orang tua tidak lantas membiarkan anaknya “sekadar” sekolah, melainkan sudah ikut memenuhi dan bertanggung jawab terhadap sarana belajar apa saja yang diperlukan anak demi kelancaran pendidikan hingga motivasi semangat berprestasi.

Jika orang tua sudah mempunyai paradigma begitu, tentu ia akan senantiasa berpartisipasi, mengontrol anak selama di rumah, bahkan bila diperlukan menambah keinginan siswa untuk ikut bimbingan belajar agar nuansa belajar anak tidak terputus pemahamannya menjadi lebih komprehensif. Jika tidak bisa, maka solusi belajar bersama dengan teman-temannya adalah langkah bijak agar konsistensi belajar tetap dilakukan oleh anak. Untuk kemudian jika berhasil, reward dari orang tua yang edukatif diperlukan sebagai pemberi stimulus belajar hingga anak sukses menjalani jenjang pendidikannya.

Adapun bagi siswa (pelajar), kewajiban belajar dengan sebaik-baiknya perlu disematkan. Sebab, masih banyak sekali anak Indonesia di luar sana yang tidak bisa bersekolah. Entah itu karena faktor jarak, hingga faktor ekonomi. Justru bagi pelajar yang diberikan kesempatan belajar, rasa syukur atas kesempatan belajar adalah dengan sungguh-sungguh selama di sekolah. Jangan sampai belajar hanya dijadikan asal-asalan, karena hasilnya mereka juga pasti asal sekolah dan lulus saja. Siswa seharusnya ulet, giat belajar hingga kemudian bisa membanggakan kedua orang tua, atas jerih payah yang dikeluarkan demi membiayainya secara berjenjang, mulai dari tingkat Paud hingga Perguruan Tinggi (PT).

Akhirnya, ruang belajar siswa akan terwujud manakala sekolah dengan segala fasilitas yang dimiliki dipersiapkan sejak dini. Begitu juga orang tua sebagai bagian dari tiga pilar pendidikan ikut mengawasi belajar anak selama di rumah. Adapun siswa sendiri harus bersungguh-sungguh belajarnya karena punya tanggung jawab sebagai calon generasi pemimpin masa depan. Semoga!

Usman Roin, Mahasiswa Magister PAI UIN Walisongo Semarang, dan Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Tengah.

 

 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar