Persaudaraan Jawa dan Sunda, Itulah Indonesia

  Selasa, 06 Agustus 2019   Administrator
Ilustrasi. (Netizen)

Kebudayaan adalah anugerah bagi orang-orang yang memiliki kebeningan hati dan kebesaran jiwa. Namun, kebudayaan menjadi musibah untuk orang-orang yang berpikiran sempit dan sesaat.

Sesuai dengan kodrat alias asal muasal, kebudayaan hadir dan berkembang untuk sebuah peradaban yang mengedepankan akal sehat, etika, dan estitika dalam pola sikap, serta petatah-petitih dan peraturan yang bijaksana dalam menjawab berbagai persoalan kehidupan.

Di antara kebudayaan di nusantara tersebutlah budaya Jawa dan budaya Sunda. Dua kebudayaan dari daratan yang sama dan bertetangga sangat dekat itu dalam beberapa momentum kerap diperdebatkan oleh para pemeluk teguh perpecahan. Dua kebudayaan yang sejatinya dari sumber yang sama dalam beberapa situasi dan kondisi sering dipermasalahkan oleh para penyembah setia pertikaian.

Salah satu sumber dari masalah itu bersumber dari kolonisasi pada masa Hindia Belanda berkuasa di bumi Jawa Dwipa. Malah,  meski Pieter Both, Jan Pieterszoon Coen  atau  Herman Willem Daendels dan konco-konconnya sudah lama pergi meninggalkan Bumi Pertiwi tetap saja spirit kolonisasi masih terus berlangsung dalam berbagai format dan bentuk yang berbeda.

Tentu saja politik devide et impera yang dikembangkan bangsa penjajah adalah pangkal persoalan hingga anak semua bangsa saling menaruh curiga dan mengekalkan yang sejatinya bertolak belakang dengan kearifal lokal yang ada. Selain itu, untuk mempertegas garis demarkasi antar manusia, bangsa penjajah menciptakan semacam kelas sosial.

Maka dari itu, Kesultanan Mataram dipertentangkan antara Jawa dan Sunda. Malah, Majapahit pun dijadikan muasal perpecahan antara Jawa dan Sunda. Padahal di antara keduanya sebelumnya dan sesudah kedatangan penjajah juga bisa hidup rukun nan damai.

Terlebih, antara Jawa dan Sunda sejatinya memiliki banyak persamaan. Jika pun ada perbedaan itu lebih sebagai kekayaan budaya yang saling menguatkan. Budaya hadir bukan untuk saling meruntuhkan.

Jejak budaya Jawa dan Sunda di antaranya bisa dilacak dari seni, bahasa, papan, dan panganan.  Di antara Jawa dan Sunda sejatinya satu zat satu urat. Dia dekat dan sejak lama memang bersaudara dan bersahabat.

Maka, tak aneh hubungan Jawa dan Sunda bisa terlihat dari sejumlah bahasa yang sama kata sama makna serta bahasa yang sama kata tapi beda makna.

Bila di Jawa ada kata mulih (pulang), isin (malu), dahar (makan), wareg (kenyang), gawe (kerja) sepi (sunyi), balung (tulang), lali (lupa) kata-kata itu juga dalam bahasa Sunda masih terus digunakan dengan maksud yang sama. Malah dalam pribahasa Sunda pun tak sedikit yang sama dengan pribahasa Jawa. Misal: sepi ing pamrih rame ing gawe.

Ada pula yang sama kata tapi beda makna. Atos (keras X sudah), sampean (kamu X kaki), cokot (gigit X ambil), sangu (bekal X nasi), urang (udang X kita), waduk (bendungan X kotoran/bohong), ical (hilang X jual), enggal (cepat X baru), amis (bau anyir X manis).

Itulah beberapa kata yang sama-sama hidup dan berkembang dalam kebudayaan Sunda dan Jawa. Kedua bahasa itu sungguh logis bisa sama kata dan sama kata karena relasi kedunya saling membutuhkan. Terlebih antara Sunda dan Jawa pernah dan selalu mengadakan kerja bersama dengan beragam tujuan.

Adanya undak-usuk dalam bahasa Sunda berkait erat juga tata bahasa Jawa yang mengenal sistem unggah-ungguh bahasa Jawa yang menerapkan bahasa ngoko, madya, krama, kedathon, dan kasar. Perbedaan cara pengucapan itu bagi sebagian pihak adalah sebentuk feodalisme yang menjadi penyebab malasnya anak muda berbahasa suku bangsa (daerah). Namun di pihak lain ragam bahasa itu adalah bentuk rasa hormat antar manusia. Unggah-ungguh justru diperlukan sebagai bagian dari pembinaan karakter.

Selain bahasa, relasi Jawa dan Sunda pun banyak yang saling silang budaya. Misal, adanya tari topeng, tari srimpi, kuda lumping, kuda renggong, tari bedaya, wayang, serta beragam variasi karawitan antara Jawa dan Sunda sejatinya memang saling memengaruhi.

Nah, fakta-fakta budaya tersebut semestinya menjadi dasar agar Jawa dan Sunda selalu berhubungan dan saling membutuhkan. Terlebih di era pascareformasi ini, semangat persaudaraan dan persahabatan mesti terus ditingkatkan. Sebab, salah sedikit saja bisa menyebabkan perpecahan jadi terbuka. Politik identitas yang beberapa lalu terjadi di ibukota Jakarta selayaknya menjadi peristiwa terakhir di negeri ini.

Dalam tataran ini, relasi budaya Jawa dan Sunda sebagai suku terbesar di Indonesia bisa menjadi contoh yang nyata bahwa kehidupan yang damai, harmoni yang abadi adalah kemestian dan terbukti bisa dirasakan.

Akhir alinea, untuk menjadi Indonesia tidak mesti meninggalkan kejawaan dan kesundaan. Untuk menjadi Indonesia justru kita bagus menyelaraskan dan mengamalkan nilai-nilai kebudayaan dalam berbagai bidang kehidupan.  Itulah Indonesia.

Djasepudin

Guru SMA Negeri 1 Cibinong, Kabupaten Bogor

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar