Pemprov Jateng Dorong Replikasi Perpustakaan Kucica

  Senin, 12 Agustus 2019   Abdul Arif
Ilustrasi perpustakaan. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Put)

SEMARANG TENGAH, AYOSEMARANG.COM-- Perpustakaan Aku Cinta Membaca (Kucica) yang dikelola masyarakat Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara menjadi nomor satu dalam lomba tingkat provinsi. Perpustakaan tersebut dikelola menggunakan alokasi dana desa.

Perpustakaan Kucica kini memiliki koleksi setidaknya 10 ribu judul buku dan eksemplar.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong replikasi perpustakaan yang berbasis inklusi tersebut ke beberapa daerah lain guna meningkatkan minat baca masyarakat.

AYO BACA : Merapi Luncurkan Tiga Guguran Lava Sejauh 450-900 Meter

Saya berharap perpustakaan lainnya bisa meniru dan mengembangkan seperti Perpustakaan Kucica, mudah-mudahan menjadi contoh yang baik dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, memberikan edukasi, inovasi, dan kreasi kepada masyarakat, kata Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono di Semarang, Senin (12/8/2019).

Sri mengatakan, perpustakaan Kucica tak hanya mendongkrak minat baca, namun juga mendorong geliat ekonomi kreatif masyarakat setempat.

Oleh karena itu, atas nama Pemprov Jateng pihaknya mengapresiasi masyarakat Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, yang telah mengelola Perpustakaan Kucica menjadi perpustakaan yang lebih maju dan kreatif.

AYO BACA : Antisipasi Erupsi Gunung Slamet, BPBD Banyumas Siagakan Sukarelawan

Perpustakaan ini bukan hanya tempat membaca, namun juga tempat berinovasi dan berkreasi, katanya.

Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jateng Nugroho menambahkan Perpustakaan Kucica sudah berbasis inklusi yang melibatkan berbagai komunitas masyarakat setempat sehingga turut mengembangkan ekonomi kreatifnya.

Perpustakaan Kucica sudah berbasis inklusi, tidak hanya untuk pinjam dan baca buku saja, namun juga untuk pusat kegiatan kreatif masyarakat sekitarnya, Jadi di sana sudah melibatkan berbagai komunitas masyarakat, termasuk juga komunitas dalam pengembangan ekonomi kreatif, ujarnya.

Artinya, komunitas itu menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat yang mengakses pengetahuan dalam hal ekonomi dengan berbagai varian bentuk hasilnya. 

AYO BACA : Nekat Curi Motor, Residivis Kembali Dibui

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar