Gus Muwafiq: Tidak Perlu Ada Perda Syariah di Indonesia

  Selasa, 13 Agustus 2019   Arie Widiarto
Ribuan orang dari berbagai daerah melakukan ziarah di makam KH Abdurrohman bin Qosisidl Haq bertepatan dengan haul Ke-79 di pondok pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen, Demak, Selasa (13/8/2019).(istimewa)

DEMAK, AYOSEMARANG.COM -- Ulama kharismatik dari Yogyakarta KH Ahmad Muwafiq dengan tegas mengatakan di Indonesia tidak perlu ada Peraturan Daerah (Perda) Syariah yang belakangan ini digelorakan oleh sekelompok orang yang tidak paham aturan.

‘’Pemerintah tidak perlu membuat Perda Syariah karena hanya menunjukkan ketidaksaling pengertian antar sesama orang Indonesia. Perda ya sudah perda saja tidak perlu ditambah syariah’’ katanya dalam tausiah di depan ribuan orang yang mengikuti Haul ke-79 KH Abdurrohman bin Qosidil Haq dan KH Muslih bin Abdurrohman, di pondok pesantren Futuhiyyah, Suburan Mranggen, Demak, Selasa (13/8/2019).

“Misalnya kita lihat bule dari Eropa itu ke Indonesia untuk mencari matahari jangan diprotes. Mereka butuh itu untuk pigmen kulitnya. Jadi kalau ada bule ke pantai, berjemur, itu mereka bukan niat pornografi. Tapi mereka memang membutuhkan matahari dari bumi Indonesia. Otak anda saja yang ngeres,” tambahnya.

Mantan asisten pribadi Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menegaskan, manusia harus saling mengerti dan mengasihi. Perda syariah, menurutnya seakan-akan membatasi masyarakat barat yang akan ke Indonesia dengan label wisata halal.

AYO BACA : Jelaskan NKRI Syariah, Ketua PA 212: Itu Cuma Istilah

“Matahari yang tidak pernah ingkar janji terbit hanya di Indonesia. Segalanya yang dimiliki Indonesia itu banyak yang tidak dimiliki negara lain. Ya kalau bule butuh matahari di Indonesia ya biarkan, kasihan mereka. Jangan dipersulit mereka datang ke Indonesia,” tuturnya.

Menurut dai yang sedang ngetop itu, larangan Allah sedikit. Agama Islam lebih banyak mempersilakan makhluknya untuk menikmati keragaman ciptaan Allah yang begitu banyak dan melakukan banyak hal yang tidak dilarang syariat Islam.

‘’Disanalah tugas ulama sebagai ahli waris para nabi untuk menjaga syariat tersebut,’’ katanya.

Ribuan orang dari berbagai daerah bahkan dari luar negeri Malaysia dan Thailand menghadiri haul Mbah Dur dan Mbah Muslih, dua ulama pendiri Pondok Pesantren Futuhiyyah sekaligus Thoriqoh Qodiriyyah Naqsabandiyah. Jalan Raya Suburan Mranggen, sehari kemarin dipadati manusia. Dari sejak bakda shalat subuh mereka membaca zikir, tasbih dan tahmid di makam KH Abdurrohman bin Qosidil Haq, KH Lutfil Hakim Muslih dan lain-lain yang terletak tepat di tengah pesantren tersebut. Mereka ada yang duduk di kursi tetapi lebih banyak yang duduk lesehan di atas tanah sepanjang jalan kampung tersebut.

AYO BACA : Tak Perlu Ada Istilah NKRI Bersyariah

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam sambutan dibacakan Kepala Biro Kesra Imam Masykur merasa bersyukur karena upacara haul seperti itu bisa dijadikan media berkumpul, bertemu dan bersilaturahmi dengan banyak orang untuk menebar kebaikan. Gubernur minta untuk terus mengajak dan menyuarakan kebaikan menghindarkan berita bohong atau hoaks yang belakangan terus menyebar di mana-mana.

Manaqib atau riwayat sejarah KH Abdurrohman dibacakan oleh Drs KH Dzikron Abdullah pengasuh pondok pesantren Ad-Dainuriyyah, Sendangguwo Semarang.

Menurut Kiai Dzikron,  Mbah Dur lahir dan dibesarkan di kampung Suburan, Mranggen, Demak, tahun 1872 M.

‘’Putra dari Bapak Kasidin, yang lazim dipanggil KH Qosidil Haq. Selain guru mengaji, Mbah Kasidin juga berkebun dan menyewakan rumahnya untuk penginapan para pedagang yang datang dari luar kota,’’ katanya.

Dalam sejarah pendidikannya ketika masih kecil, Abdurrohman dididik langsung oleh abahnya. Menginjak dewasa, ia belajar di Pesantren Tayem, Purwodadi. Lalu nyantri di sebuah pesantren yang berada di seberang Sungai Brantas, Kediri, Jatim. Setelah pulang dari Jatim, lalu berguru kepada KH Abu Mi'raj, di Kampung Sapen, Penggaron, Genuk, Semarang hingga akhirnya diambil sebagai menantu. Dijodohkan dengan putrinya, Hajah Shofiyah Abu Mi'raj.

 ‘’Kiai Abdurrohman juga sempat berguru kepada KH Sholeh Darat, ulama besar dari Semarang. Lalu KH Ibrohim, Brumbung, Mranggen, Demak,’’ katanya.

AYO BACA : Terima Suap, Hakim Lasito Dituntut 5 Tahun Penjara

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar