Mahasiswa dan Pendidikan Karakter Antikorupsi

  Rabu, 28 Agustus 2019   Adib Auliawan Herlambang
Agus Triyono, Dosen Universitas Dian Nuswantoro

Mahasiswa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pelajar perguruan tinggi. Dalam struktur pendidikan Indonesia, mahasiswa menduduki jenjang satuan pendidikan tertinggi di antara yang lainnya. Seperti pendidikan di tingkat dasar, menengah pertama, atau menengah atas atau kejuruan. 

Mahasiswa sebagai bagian dari stakeholders kampus memiliki peran dan fungsi yang sangat besar dalam aspek moral, sosial dan intelektual. Dalam aspek moral mahasiswa dianggap sudah dewasa dalam memilih kehidupannya sendiri. Gelar yang disandang ini memiliki arti bahwa dirinya sudah mampu berpikir untuk dapat menentukan masa depannya sendiri. 

Pada tingkat inilah mahasiswa akan banyak ditempa berbagai ilmu pengetahuan tingkat lanjut, sekaligus berbagai pengaruh dari dalam maupun luar kampus. Dari sini pulalah mereka akan mematangkan sikap berupa sikap kognitif, afektif, dan konatif (Secord & Bacman,1964). Termasuk bagaimana mahasiswa akan menentukan sikap dalam ikut serta menerpa pendidikan anti korupsi yang didapat di kampus. 

Bagaimana mereka akan membentuk keyakinan dari pengetahuan yang didapat tentang pentingnya pendidikan anti korupsi. Mereka juga akan termotivasi perasaannya terhadap perasaan suka atau tidak suka terhadap pendidikan anti korupsi sehingga bersifat evaluatif. Terakhir adalah bagaimana mereka harus bersikap terhadap pendidikan anti korupsi, termasuk kesiapan mereka dalam mengimplementasikan pendidikan anti korupsi di kampus dan di lingkungan sekitarnya.

Pendidikan Karakter Antikorupsi Mahasiswa
\n 
\nPendidikan berbasis pada karakter beberapa tahun ini terus disosialisasikan tanpa henti. Program ini bahkan mendapat perhatian berbagai pihak khususnya akademisi dan dunia pendidikan lainnya. Pendidikan karakter kini sudah banyak dimasukkan dalam kurikulum sekolah dan kampus. Ini juga  sebagai upaya untuk mengatasi krisis moral yang menjadi permasalahan pada masa kini. Aplikasi pendidikan karakter dalam perilaku berkarakter mahasiswa menjadi bagian dari output insan kampus sebagai bentuk kontribusinya mencetak generasi berkualitas.

Oleh karenanya, sebagai mahasiswa harus mampu membuat perubahan langsung dalam kehidupannya. Ataupun membuat dirinya sebagai sebuah agen dari perubahan (agent of change), karena telah banyak mengenyam pendidikan dengan skala yang cukup. Artinya adalah bahwa mahasiswa memiliki merupakan sumber daya yang besar dalam pendidikan pembentukan karakater, bahkan tak pernah habis.

Sebagai mahasiswa dianggap menjadi kelompok orang-orang yg memiliki moral yg baik. Paling tidak mahasiswa juga bisa menjadi social control dalam kehidupan sosial. 

Pendidikan anti korupsi bagi mahasiswa tidak terlepas dari pengetahuan yang didapatkannya selama belajar di kampus. Termasuk memberikan pengetahuan dalam proses pemberantasannya. Nilai-nilai korupsi harus terus ditanamkan agar mahasiswa juga memiliki kompetensi dalam melakukan pencegahan pada orang lain untuk  korupsi. 

Tetapi juga melakukan pencegahan pada diri sendiri untuk tidak melakukan korupsi. Sebagai salah satu contoh nyata bagi mahasiswa adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dalam menghadapi ujian semester. Tidak menyontek saat ujian, atau melakukan plagiarisme lainnya. Itu menjadi contoh kecil tentang pendidikan anti korupsi yang harus dipahami mahasiswa. Artinya, mahasiswa  harus mampu mengenali dan memahami korupsi itu dengan benar.

Dari hal itulah dapat dipetik kesimpulan bahwa mahasiswa harus mampu memahami perilaku korupsi dengan memperhatikan berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungan kampus. Namun, juga tidak melupakan berbagai aspek yang turut serta dalam pendidikan karakter ini yakni keluarga dan lingkungan sekitar. 

Keberanian mahasiswa untuk melakukan berbagai bentuk tindakan pencegahan korupsi menjadi orientasi dalam pembentukan karakter ini, sehingga dapat melekat pasca keluar dari dunia kampus. Dan, terakhir adalah bagaimana mahasiswa mampu mengimplementasikan perilaku anti korupsi ke dalam kehidupan sehari-hari secara nyata dan menjadi contoh orang lain. Nah, ini tentu tugas beras bagi semua stakeholders kampus. Peran dosen, karyawan, rektor, dan semua yang terlibat dalam proses pembentukan karakter ini harus bahu-membahu menciptakan karakter yang kokoh.

Penulis:  Agus Triyono, Pegiat Antikorupsi dan Dosen Universitas Dian Nuswantoro

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar