Guru dan Pionir Budaya Literasi

  Sabtu, 31 Agustus 2019   Adib Auliawan Herlambang
Usman Roin, Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Jawa Tengah dan Pegiat Literasi Guru Nulis Artikel di Website Sekolah.

Mengajak stakeholder  sekolah (baca: Guru) untuk melek literasi bukan perkara yang mudah. Guru sebagai agen transformasi pengetahuan seharusnya punya kesadaran untuk ikut menjadi pionir literasi. Utamanya dalam hal menulis. Hanya saja, hal itu jauh panggang dari api.

Menulis menjadi penting untuk dikampanyekan oleh guru karena itu bukti karya. Kata bijak Pramoedya Ananta Toer menegaskan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Pertanyaannya, bagaimana guru akan menunjukkan karya kepada orang lain bila ia sendiri tidak memiliki karya? Bagaimana guru menyuruh siswa untuk produktif menulis, bila tidak satupun karya tulis guru dihasilkan? 

Sulitnya guru melek menulis akibat nihilnya sosok penginspirasi menulis. Sehingga tidak salah bila tugas guru kebanyakan hanya berkutat kepada pengajaran, administrasi dan memenuhi tuntutan pekerjaan. Mengutip dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id jumlah 2.759.324 guru pada semua jenjang, belum menyentuh bagaimana guru berpikir menelurkan karya tulis.

Guna mewujudkan guru memiliki karya tulis di sekolah memang bukan perkara yang mudah. Bagi guru negeri, tuntutan untuk membuat karya tulis (PTK, artikel, best praktis, buku ajar, dan lainnya) akan sedikit memacu mewujudkannya. Tidak lain dalam rangka sebagai bahan Penilaian Angka Kredit (PAK) jika kenaikan pangkatnya tidak ingin terlalu lama parkir. Ini artinya, karya tulis yang dibuat oleh guru baru sebatas tuntutan pemenuhan ‘syarat’ PAK, belum sampai pada pembudayaan. Kalaupun ada, kuantitasnya kecil dari jumlah ribuan guru yang ada.

Realitas guru di sekolah negeri, berbanding terbalik dengan guru di sekolah swasta. Keberadaan sekolah sewasta yang tidak mensyaratkan menulis sebagai PAK, menjadikan para guru terlelap dalam tidur. Bisa dipastikan keberadaan guru hanya berkutat pada datang, mengajar, dan pulang. Sehingga bisa dipastikan karya tulis pada guru swasta nihil keberadaannya. Kalaupun ada bisa dihitung jari keberadaannya.

Dua hal di atas, sebenarnya bermuara pada ada tiadnya penggerak literasi. Entah itu dari nahkoda (Kepala Sekolah), guru, tenaga pendidik, yang telah memiliki jiwa literasi. Sebab, untuk menjadi pegiat literasi itu harus tercermin dahulu apa yang akan dikampanyekan. Sebagai contoh, bila guru ingin menginspirasi sesama teman guru untuk menulis, akan lebih mengena bila kemudian guru yang bersangkutan telah mempunyai karya terlebih dahulu. Akan jadi nihil dalam hal trust (kepercayaan) bila ada guru kemudian bicara tentang semangat mengampanyekan literasi, namun produk literasinya juga tidak kunjung guru miliki.

Untuk bisa memunculkan hal tersebut, bagi penulis kuncinya ada pada guru. Langkah pertama, kepala sekolah perlu memetakan keberadaan guru yang dimiliki. Pemetaan ini dalam rangka memastikan ada atau tidak guru yang memiliki ghirah (semangat) literasi. Jika ada, keberadaan guru tersebut dijadikan uswah (contoh) kampanye secara masif gerakan literasi di tingkat sekolah secara sistematis dan terprogram. Jika belum ada, artinya leader bisa meminta kepada guru Bahasa Indonesia untuk menjadi pionir literasi.

Bila sudah ada guru yang konsen dalam hal literasi, kemampuan untuk membuat program literasi secara masif perlu dilakukan. Tidak untuk kepentingan pribadi kemampuan literasinya. Melainkan dibagikan kepada yang terdekat, agar secara masif literasi terprogram dan sistematis perencanaannya, hingga akhirnya terbentuk budaya membaca dan menulis secara seimbang.
Untuk mambangun melek menulis sesama guru, ‘guru’ pionir literasi perlu membuat kesepakatan bersama bila menulis itu hal pokok literasi yang harus diprioritaskan selain membaca. 

Langkahnya, dengan membuat program menulis bersama. Bisa dalam bentuk menulis artikel di website sekolah sebagaimana dilakukan sekolah swasta di Semarang. Dimana, setiap hari Sabtu, secara bergiliran tulisan artikel pendek guru diposting di website sekolah. Setelah ter upload kemudian di share ke stakeholder sekolah sebagai bahan bacaan. 

Kehadiran program guru menulis artikel di website sekolah adalah satu contoh bahwa program pembudayaan menulis perlu digalakkan secara masif menjadi kebiasaan. Terlebih, hampir dipastikan seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, sekolah telah memiliki website pribadi. Jadi tidak ada alasan guru tidak menulis. Karena produk artikel di website sekolah bisa dibukukan menjadi buku kompilasi atau antologi.

Kedua, membuat penerbitan berjamaah. Artinya konsep penerbitan buku dalam bentuk antologi/kumpulan/himpunan perlu dilakukan guru secara bersama-sama terlebih dahulu. Jika secara berjamaah sudah terwujud, maka dibuat dalam bentuk peer group. Artinya kelompok penghasil karya tulis, dibuat jumlahnya lebih sedikit. Sehingga ini membuat peer group fokus dan bersungguh-sungguh untuk menghasilkan karya tulis. Setelah pecahan peer group berhasil, maka dalam komunitas tersebut dipecah kembali dalam peer group yang anggotanya lebih kecil lagi. Hingga akhirnya secara individu bisa menghasilkan karya (buku) sendiri. Hal ini merupakan ending dari proses membangun literasi ditingkat lembaga pendidikan.

Ketiga, pembudayaan menulis hingga berbuah buku juga bisa dilakukan lewat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Contoh, untuk guru bahasa Indonesia, saat pembelajaran puisi, cerpen, pantun dan lainnya, bisa lebih dioptimalkan, direncanakan dengan baik sehingga hasil pembelajaran tersebut bernilai jangka panjang. Yakni, bisa dibukukan sebagai bukti bahwa kegiatan literasi yang ada bukan sebatas membaca, atau menulis—karena tugas menyalin buku—melainkan betul-betul membiasakan menulis. 

Akhirnya, mewujudkan pionir literasi di lembaga pendidikan masing-masing harus segera dilakukan secara masif. Agar kegiatan literasi ‘menulis’ seirama dengan membaca. Salam literasi.

Penulis: Usman Roin, Pengurus Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Jawa Tengah dan Pegiat Literasi Guru Nulis Artikel di Website Sekolah.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar