Jepang Selidiki Bencana Nuklir Fukushima Delapan Tahun Lalu

  Rabu, 11 September 2019   Abdul Arif
Foto udara menunjukkan reaktor 1 (kiri) dan 2, stasiun listrik tenaga nuklir Pembangkit Listrik Kyushu Sendai di Satsumasendai, perfektur Kagoshima, Jepang, Selasa (11/8), dalam foto dari Kyodo ini. Jepang mengaktifkan kembali reaktor nuklir untuk pertama kalinya sejak dua tahun lalu, sementara Perdana Menteri Shinzo Abe berusaha meyakinkan rakyat Jepang yang takut bahwa standar yang ditetapkan membuat reaktor aman setelah bencana Fukushima pada 2011. (Mandatory credit REUTERS/Kyodo)

TOKYO, AYOSEMARANG.COM-- Regulator nuklir Jepang berencana menyelidiki kembali bencana Fukushima, gempa bumi dan tsunami delapan tahun lalu. Bencana pada Maret 2011 itu menyebabkan ledakan dan kehancuran tiga reaktor di stasiun nuklir Fukushima Daiichi di utara ibukota, Tokyo. Ledakan itu memuntahkan radiasi yang memaksa 160.000 orang mengungsi, banyak yang tidak pernah bisa kembali.

Dalam penyelidikannya, Otoritas Peraturan Nuklir (NRA) akan berusaha menentukan tempat radiasi bocor dari bejana penampung reaktor yang rusak, menurut rilis sebuah makalah.

AYO BACA : Atasi Konflik Kashmir, Pakistan Butuh Dukungan Indonesia

Ini juga akan melihat sistem pendingin yang diatur untuk menjaga bahan bakar yang meleleh di reaktor agar tidak terlalu panas, katanya, Rabu (11/9/2019).

Seorang juru bicara utilitas, yang dihubungi oleh Reuters melalui telepon, tidak dapat segera berkomentar.

AYO BACA : Tujuh Dampak Negatif saat Menempuh Perjalanan Udara

Bencana tersebut akhirnya menyebabkan semua reaktor Jepang mati, yang sebelum bencana telah memasok sekitar 30 persen listrik di ekonomi terbesar ketiga di dunia itu.

Beberapa investigasi sejak itu melihat bencana nuklir terburuk di dunia sejak Chernobyl pada tahun 1986.

Salah satu dari mereka menyimpulkan bahwa Fukushima adalah bencana buatan manusia yang bisa dan seharusnya bisa diramalkan dan dicegah, (sementara) pengaruhnya bisa dikurangi dengan respon manusia yang lebih efektif.

Pada tahun 2016, pemerintah memperkirakan total biaya pembongkaran pabrik, dekontaminasi daerah yang terkena dampak, dan kompensasi akan menjadi 21,5 triliun yen (199 miliar dolar AS), atau sekitar seperlima dari anggaran tahunan Jepang. ( 1 dolar = 107,7800 yen).

AYO BACA : Uni Eropa Dinilai Gagal Penuhi Komitmen Perjanjian Nuklir

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar