Menilik Pertanian Pangan di Jawa Tengah

  Jumat, 04 Oktober 2019   Adib Auliawan Herlambang
Ilustrasi pertanian pangan (Istimewa)

Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu sentra tanaman pajale (padi, jagung dan kedelai) di Indonesia. Provinsi tersebut bisa dibilang sebagai daerah penyokong pangan tingkat nasional. Hal itu terbukti dengan produksi padi yang sangat besar yang mencapai 9,51 juta ton pada 2018. Besarnya hanya kalah tipis dari Jawa Timur dan Jawa Barat yang mencapai 10,54 juta ton 9,53 juta ton padi.

Untuk mengetahui produksi tanaman pangan tentunya dibutuhkan data luas panen. Data luas panen tersebut dikalikan dengan produktivitas, sehingga dihasilkan produksi tanaman pangan. Luas panen padi untuk tahun 2018 menggunakan sebuah inovasi terbaru yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA). Penggunaan metode terbaru diharapkan bisa memberikan data yang cepat dan lebih akurat, dari pada metode yang sebelumnya digunakan. 

Dengan metode KSA hampir seluruh daerah mengalami penurunan luas panen dan produksi padi. Pada tahun 2014 luas panen padi di Provinsi Jawa tengah seluas 1,80 juta hektare dengan produksi sebesar 9,65 juta ton. Mengalami penurunan pada tahun 2018 menjadi 1,68 juta hektare luas panen dan produksi menjadi 9,51 juta ton padi. 

Pada 2018, Kabupaten dengan produksi tertinggi adalah Kabupaten Cilacap dengan luas panen 122 ribu hektare dengan produksi 777 ribu ton mengalami penurunan dari tahun 2014 dengan luas panen mencapai 132 ribu hektare dengan produksi 698 ribu ton. Sedangkan tertinggi kedua adalah  Kabupaten Grobogan  dengan luas panen 126 ribu hektare dan produksi 732 ribu ton pada 2018, meningkat dari 114 ribu hektare dan produksi 579 ribu  ton pada tahun 2014.

Metode KSA yang sekarang hanya untuk menghitung luas panen padi. Diharapkan nanti KSA segera bisa diterapkan untuk jagung dan kedelai, sehingga data tanaman pangan yang akurat dan cepat bisa diperoleh. Data luas panen tanaman pangan sebelum tahun 2015 dilakukan dengan metode konvensional oleh dinas pertanian, yaitu melalui eye estimate sehingga cenderung menghasilkan data dengan akurasi rendah dan waktu pengumpulan yang lama. Hal itu karena harus berjenjang mulai dari kecamatan. 

Untuk komoditas jagung, luas panen jagung di Provinsi Jawa tengah tahun 2014 adalah seluas 538 ribu hektare dengan produksi sebesar 3,05 juta ton. Angka itu meningkat dari tahun 2013 di mana produksi sebesar 2.93 juta ton. Pada tahun 2014 produksi jagung tertinggi adalah Kabupaten Grobogan  dengan luas panen  105 ribu hektare dengan produksi 591 ribu ton,  sedangkan tertinggi kedua adalah Kabupaten Wonogiri  dengan luas panen 53 ribu hektare dan produksi 304 ribu ton. 

Untuk komoditas kedelai, luas panen kedelai di Provinsi Jawa Tengah tahun 2014 adalah seluas 72 ribu hektare dengan produksi sebesar 125 ribu ton. Mengalami penurunan dari tahun 2013 produksi sebesar 99 ribu ton. Kabupaten tertinggi produksi kedelai tahun 2014 adalah Kabupaten Grobogan  dengan luas panen  19,8 ribu hektare dengan produksi 45 ribu ton,  sedangkan tertinggi kedua adalah Kabupaten Wonogiri  dengan luas panen 9,98 ribu hektare dan produksi 14,97 ribu ton.

Potensi tanaman pangan di Jawa Tengah yang merupakan salah satu yang terbesar secara nasional, terutama padi, seharusnya menjadi modal besar bagi masyarakat Jawa Tengah. Sayangnya, masyarakat belum cukup sejahterah dengan mata pencaharian sebagai petani. Hal ini bisa dilihat secara makro bahwa penyumbang kemiskinan terbesar adalah dari perdesaan dan tentunya mereka adalah para petani. 

Pada tahun 2018 orang miskin di perdesaan Jawa Tengah mencapai 2,16 juta jiwa atau 12,8 persen. Nilai tukar petani (NTP) tanaman pangan pun masih begitu rendah dan tidak cukup membantu bagi para petani. Pada tahun 2018 NTP hanya berfluktuasi di angka 104, bahkan pernah menyentuh angka 98 pada Bulan Juli.

Ada beberapa sebab utama mengapa pertanian pangan masih belum cukup bisa meningkatkan kesejahteraan petani, di antaranya adalah mayoritas petani pangan di Jawa Tengah adalah petani gurem. Menurut hasil Survei Pertanian Antarsensus tahun 2018, petani gurem tanaman  pangan di Jawa Tengah mencapai 90 persen atau 2,19 juta dari total 2,43 juta. Petani gurem hanya memiliki luas lahan di bawah 0,5 hektare sehingga begitu sulit berharap banyak dari hasil pertaniannya.

Selain itu, menurut Survei Ongkos Usaha Tani 2017, petani masih banyak belum bisa memperoleh pembiayaan, bibit dan pupuk masih belum terjangkau harganya, serta harga gabah masih dikontrol para tengkulak, terlihat dari pemanenan utama yakni ditebaskan dan diijonkan mencapai 12 persen.

Masalah lainnya adalah frekuensi penanaman yang bisa dilakukan sampai 3 kali dalam setahun, hanya bisa ditanamai 1-2 kali saja. Hal ini karena sangat bergantung kepada sumber air dan infrastruktur pengairan. Jika menginginkan produktivitas yang tinggi maka diperlukan upaya yang besar untuk memfasilitasi itu semua.

Gambaran pertanian tanaman pangan di Jawa Tengah adalah gambaran yang cukup sukses di Indonesia, sayangnya masih menyimpan berbagai catatan yang perlu perbaikan dan penyempurnaan. Pertanyaan cukup besar tentu muncul dalam benak kita, jika Jawa Tengah dengan potensinya yang cukup besar masih terdapat kekurangan, lalu bagaimana dengan pertanian di luar Jawa sana. Tentu lebih butuh perhatian yang besar dari pemangku kebijakan.

Oleh: Fathul Sanusi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar