Menggagas Sekolah Antiterorisme

  Jumat, 04 Oktober 2019   Abdul Arif
Hamidulloh Ibda, Dosen dan Kaprodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung. (dok pribadi)

AYOSEMARANG.COM-- Sekolah atau madrasah antiterorisme urgen dihadirkan untuk membangun generasi moderat. Secara konseptual, ada dua model sekolah antiterorisme. Pertama, sekolah yang benar-benar menerapkan kurikulum, model, sistem dan pembelajaran antiterorisme. Kedua, sekolah yang memberikan atau membuka layanan atau praktik pembelajaran antiterorisme.

Kita dapat belajar dari sekolah dan madrasah di bawah Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU. Madrasah maupun sekolah di bawah naungan LP Ma’arif NU menjadi benteng untuk memutus generasi teror. Data PP LP Ma’arif maupun LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah, menyebut belum ada madrasah dan sekolah Ma’arif yang terpapar radikalisme apalagi terorisme.
 
Maka sekolah dan madrasah Ma’arif menjadi “taman” untuk menyemai generasi antiterorisme. Secara substansial, sekolah dan madrasah Ma’arif telah menerapkan pembelajaran antiterorisme melalui kurikulum Aswaja Annahdliyah dan mata pelajaran Ke-NU-an.

Realitasnya, generasi yang terpapar radikalisme justru di sekolah-sekolah negeri, bukan di sekolah atau madrasah swasta seperti Ma’arif. 

Terorisme selalu merugikan dan membuat ketakutan bagi masyarakat. Merebaknya tragedi terorisme yang mewarnai Indonesia harus segera dihentikan khususnya di lembaga pendidikan. Jika tidak, maka negara ini akan menjadi tempat “pelampiasan nafsu” para teroris yang sudah didoktrin jihad perang karena salah asuhan. Pendidik di madrasah atau sekolah di negeri harus segera mencari solusi atas kejahatan laten yang membahayakan ini. Salah satunya melalui “sekolah antiterorisme”.

Apakah hanya sekolah dan madrasah umum yang harus berbenah? Jelas tidak. Meski tidak ada pelajar Ma’arif terpapar radikalisme, namun potensi penyusupan ideologi ini terus mengincar sekolah-sekolah yang moderat seperti Ma’arif maupun di bawah naungan ormas moderat lain seperti Muhammadiyah.

Terorisme bukan Jihad

Terorisme bukan jihad, dan jihad bukan terorisme. Sangat sesat jika teror diartikan sebagai jihad. Hal ini justru menunjukkan kekerdilan berpikir dan pemahaman agama yang parsial dan setengah hati. Sebab, hadirnya agama adalah memberi kegembiraan bagi semua manusia, bukan meneror, merusak apalagi membunuh. 

AYO BACA : Menumbuhkan Budaya Literasi Keluarga Melalui Dongeng

Hendropriyono (2009) menjelaskan ada dua jenis teror di dunia, yaitu teror murni dan teror bagian dari perang. Teror yang terjadi di Indonesia dalam kurun 12 tahun terakhir setelah era reformasi adalah teror murni karena terjadi di negara damai. Sedang teror yang menjadi bagian dari perang, seperti Israel dan Palestina. 

Teroris kini berani terang-terangan melakukan serangan secara terbuka. Bahkan, tidak hanya gereja dan vihara, namun masjid juga menjadi target serangan tak terkecuali sekolah. Bom bunuh diri di masjid itu menjadi bukti otentik bahwa terorisme tak ada kaitanya dengan agama Islam. Maka pihak-pihak yang selama ini mengaitkan aksi bom dengan agama harus berhenti memojokkan Islam, dan muncullah islamofobia.

Semua kalangan harus bersinergi memberantas terorisme. Semua agama harus bekerja sama untuk menciptakan kedamaian dan kegembiraan, bukan saling menyerang. Sebab, terorisme bukanlah jihad. Bagi teroris yang mengatasnamakan agama sebagai alat untuk meneror adalah sesat dan menunjukkan kedangkan menelaah substansi agama. Di sinilah, sekolah harus mengambil peran sebagai lembaga penyemai karakter moderat, nasionalis, religius.

Sekolah Antiterorisme

Sebagai bagian dari lembaga NU, Ma’arif memiliki peran strategis untuk membangun generasi moderat. Pola pendidikan Ma’arif sangat inklusif terhadap nilai-nilai religius dan kebangsaan. Sehingga, Ma’arif menjadi contoh lembaga pendidikan yang secara subtansial dapat disebut sebagai “sekolah antiterorisme”. Begitu pula dengan sekolah negeri, harusnya mereka juga turut menggagas sekolah antiterorisme.

Jika ada sekolah antikorupsi, sekolah inklusif, maka sekolah antiterorisme juga urgen. Sebab, problematika bangsa ini tidak hanya sekadar korupsi, namun juga ideologi. Meski langkah represif penting, namun hal itu sudah menjadi tugas kepolisian, TNI, dan juga BNPT. Untuk itu, model sekolah antiterorisme harus digagas karena urgen hadir di tengah-tengah kita dengan beberapa formula. 

Pertama, perlu kurikulum antiterorisme yang utuh, berbeda, dan spesifik mengajarkan nilai-nilai moderasi kepada peserta didik. Bisa berbentuk utuh, atau terpisah yang dapat diintegrasikan dalam Kurikulum 2013. Implementasi 17 nilai-nilai atau karakter dalam PPK harus diintegrasikan untuk mendukung karakter antiteror.

AYO BACA : F-PKB Kota Semarang Apresiasi Pengesahan RUU Pesantren

Kedua, penerapan sistem, kurikulum, dan metode pendidikan pesantren yang berkarakter Aswaja Annahdliyah secara utuh. Mulai aspek fikrah (pemikiran), aqidah (keyakinan), harakah (gerakan), dan amaliyah (praktik ibadah).

Munculnya UU Pesantren, menjadikan sekolah antiterorisme semakin terbuka karena sistem, kurikulum, atau nilai-nilai di pesantren dapat dimasukkan ke dalam pendidikan formal. Sekolah umum, dapat menerapkannya sesuai pedoman PPK yang sudah ada.

Ketiga, mantan teroris yang sudah sadar perlu dilibatkan untuk program deradikalisasi. Pasalnya, selama ini mereka kurang diperhatikan pemerintah. Secara teknis, mereka perlu dihadirkan di sekolah atau madrasah. Mereka menjadi model atau “guru tamu” yang dapat mengedukasi peserta didik secara empiris tentang bahaya terorisme.

Keempat, pelibatan anggota keluarga dan ormas yang mendukung pemberantasan terorisme. Keterlibatan keluarga dan masyarakat juga penting untuk mengawal anak-anak mereka di sekolah agar tidak terpapar radikalisme.

Kelima, pelibatan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dengan sekolah untuk memutus generasi teroris. BNPT dan kementerian terkait, khususnya Kemdikbud dan Kemenag harus lebih serius menjalankan program deradikalisasi teroris, program untuk menetralisasi paham radikal yang diyakini teroris. 

Selain bersingeri dengan Kemdikbud dan Kemenag, BNPT harus menjalin sinergi dengan lembaga pendidikan nondepartemen, masyarakat, dan tokoh agama. Pemotongan generasi dan deradikalisasi sangat penting, karena menjadi hal utama mengatasi terorisme. Maka sekolah dan madrasah antiterorisme urgen dibangun, digagas, dan dipraktikkan. Jika tidak sekarang, kapan lagi?

-Hamidulloh Ibda, Dosen dan Kaprodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung

 

 

AYO BACA : Potensi Cacat Hukum atas Penempatan TNI dalam Jabatan di Kementerian ESDM

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar