Kisah Mahasiswa UPGRIS Magang di Negara ASEAN

  Rabu, 09 Oktober 2019   Abdul Arif
Dokumentasi mahasiswa Universitas PGRI Semarang magang internasional di Malaysia. (dok)

SEMARANG, AYOSEMARANG.COM- Sebagai upaya mencetak lulusan yang unggul, Universitas PGRI Semarang kembali mengirimkan mahasiswanya mengikuti magang internasional di luar negeri.

Sejumlah 31 mahasiswa dalam kurun waktu Agustus sampai dengan Desember 2019 telah dikirim ke tiga negara ASEAN, antara lain 8 mahasiswa ke Malaysia, 18 Mahasiswa ke Filipina, dan 5 mahasiswa ke Vietnam. Mereka masing-masing mengikuti 3 program magang internasional yang berbeda. Mahasiswa yang dikirim ke Malaysia dan Vietnam mengikuti program Sea-Teacher, dan 2 Mahasiswa yang dikirim ke Malaysia mengikuti program Sea-TVET.

Sedangkan 6 mahasiswa yang dikirim ke Malaysia mengikuti Teaching Internship (praktik mengajar) yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) UPGRIS. Adapun Sea-Tecaher dan Sea-Tvet diselenggrakan oleh Organisasi Menteri Pendidikan Asia Tenggara (SEAMEO). 

Kegiatan utama dari Sea-Teacher adalah mengajar baik ditingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, maupun Sekolah Menengah Atas. Sedangkan kegiatan utama dari Sea-Tvet yakni magang di perusahaan.

Selama satu bulan di luar negeri, tentunya mahasiswa belajar banyak hal. Mulai dari sistem pendidikan, budaya, lingkungan kerja, dan belajar beradaptasi dengan orang-orang baru di negara yang mereka tempati. 

Rahma Dyah salah satu peserta Sea-Teacher merasa mendapatkan pengalaman banyak terkait dunia pendidikan di Filipina. Menurutnya, sistem Pendidikan di negara Filipina hampir sama dengan Indonesia, letak perbedaannya adalah pada kurikulum yang dipakai. 

AYO BACA : British Embassy Jakarta Berikan Tip Lolos Beasiswa Chevening

SD di sana sama seperti di Indonesia. Bedanya di Filipina menggunakan kurikulum K-12. Nah kurikulum K-12 ini sama seperti KTSP 2006 versi Indonesia,” jelasnya.

Rahma juga melihat grade materi yang diajarkan di Filipina satu tingkat lebih tinggi dibanding Indonesia. “Pembelajaran mereka setingkat lebih tinggi dari Indonesia, materi bahasa Inggris di Roosevelt Elementary School Department (SD) seperti bahasa Inggris untuk SMP atau SMA di Indonesia,” tuturnya.

Sementara itu Firman Affandi, salah satu Mahasiswa yang mengajar di Malaysia memiliki pengalaman yang berbeda dengan Dyah. Ia mengaku cukup sulit mengajar di kelas multietnis. Tapi karena semangatnya cukup tinggi akhirnya ia mampu mengajar selama 4 pertemuan.

“Pembelajaran di Malaysia hampir sama seperti di Indonesia, perbedaannya kalau di Malaysia saya mengajar di kelas multietnis. Jadi satu kelas ada siswa dari etnis India, Cina dan Melayu,” ujarnya.

Bahasa menjadi kendala Firman pada saat mengajar. Pasalnya ia harus menggunakan bahasa melayu agar murid-muridnya memahami materi yang disampaikan. Terlebih ia mengajar di kelas multietnis di mana masing-masing siswa masih menggunakan bahasa nenek moyangnya.

”Kesulitan yang saya hadapi di bahasa. Saya harus mengikuti bahasa Melayu yang baku,” imbuhnya. 

AYO BACA : Mahasiswa USM Dituntut Lebih Peka Terhadap Keutuhan Bangsa

Meskipun banyak kendala, Firman tetap merasa bangga, karena di sana dia dan peserta magang yang lain benar-benar dihormati.

Setali tiga uang dengan Firman, Dura salah satu peserta Sea-Tvet juga mengalami kendala bahasa pada saat magang di Malaysia. Menurut Dura karena di Malaysia tidak semua orang bisa bahasa Inggris mau tidak mau ia harus belajar bahasa Melayu. Meskipun demikian Dura tetap menikmati kegiatannya selama di Malaysia. 

“Ýang paling menyenangkan di sana ya travelling activity, kita diajak jalan-jalan ke Petronas, ke Gedung kementrian Pendidikan dan kebudayaan Malaysia, tutur Dura.

Azizah teman seperjuangan Dura juga mengungkapkan bahwa mereka selama magang di Malaysia menjadi asisten arsitek di Azizul Azfar Arsitek. “Kami di sana jadi asisten, kegiatan kami mendesain, melayout, dan mendesain ulang beberapa bangunan di Kuala Lumpur,” jelas Azizah.

Kedua gadis yang menekuni bidang arsitek itu juga mendapat ilmu baru tentang measure project. 

“Nah ilmu baru yang kami dapat itu tentang measure project. Measure project itu digunakan ketika kami akan merenovasi bangunan. Nah kami harus mengukur dan menggambar ulang bangunan tersebut, pungkas Azizah.

Rektor UPGRIS Dr. Muhdi SH.M.Hum berharap melalui kegiatan magang internasional itu selain dapat membawa nama baik kampus UPGRIS ke kancah internasional juga sebagai ajang saling menghargai antar negara-negara ASEAN.

“Kita tidak memilih negara yang tidak menghargai Indonesia, kita ingin saling menghargai. Kalau kita tidak ke sana, kita tidak akan dianggap siapa-siapa,” tutur Muhdi di forum diskusi bersama mahasiswa. 

AYO BACA : Inagurasi Unnes Hadirkan Nadin Amizah dan Fourtwnty

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar