(SEMARANGAN) Mengenal Tentoonstelling Part 2: Sempat Jadi Pro Kontra dan Dikritik Keras Ki Hajar Dewantara

- Selasa, 24 Mei 2022 | 19:25 WIB
Taman Indonesia Kaya saat ini. Dulu di tempat ini pernah ada Tentonsteeling, pasar raya terbesar di dunia. (Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)
Taman Indonesia Kaya saat ini. Dulu di tempat ini pernah ada Tentonsteeling, pasar raya terbesar di dunia. (Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)

SEMARANGSELATAN, AYOSEMARANG.COM - Tentoonstelling memang pernah jadi pasar raya terbesar di dunia yang berlokasi di Jalan Menteri Supeno Semarang.

Namun di tengah kebesarannya, Tentoonstelling sempat dikecam oleh beberapa pihak, salah satunya Ki Hajar Dewantara.

Sejarawan Semarang Tjahjono Rahardjo menjelaskan, memang Tentoonstelling akhirnya hanya digelar selama 4 bulan sebelum lenyap karena perang.

Namun saat hendak dilaksanakan, dalam acara itu sempat muncul pro-kontra dari para tokoh.

Baca Juga: (SEMARANGAN) Mengenal Tentoonstelling Part 1: Pasar Raya Terbesar Dunia di Taman Menteri Supeno Semarang

"Kritikan disampaikan oleh Suwardi Suryaningrat yang kelak dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara menulis artikel berjudul Alk Ik en Nederlander atau artinya Seandainya Saya Jadi Orang Belanda," ungkapnya saat ditemui beberapa waktu yang lalu.

Dalam artikelnya, Suwardi mengkritik tindakan pemerintah Belanda yang memilih Semarang sebagai tempat acara Tentoonstelling.

Suwardi, lanjut Tjahjono, tentu tidak mengkritik pekan rayanya, namun tajuknya yang memperingati 100 tahun kemerdekaan Belanda.

"Suwardi menulis dengan nada protes yang bunyinya kira-kira begini 'Kita jadi warga yang dijajah kok memperingati orang yang menjajah kita'. Nah, imbas tulisan tersebut, Suwardi dijatuhi hukuman dengan diasingkan ke Belanda bersama dr Cipto Mangunkusumo dan Douwes Deker," ujar Tjahjono.

Satu-satunya sisa pasar raya terbesar itu adalah sang perempuan pendobrak tradisi kolot yakni E. H Baronesse van Hoevell.

Halaman:

Editor: Vedyana Ardyansah

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X