Ini Arti Ongkang-ongkang, Owah, dan Padhalan dalam Bahasa Semarangan

- Senin, 18 Juli 2022 | 21:15 WIB
Lawang Sewu. Ilustrasi kosakata dialek semarangan (Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)
Lawang Sewu. Ilustrasi kosakata dialek semarangan (Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)

SEMARANGTENGAH, AYOSEMARANG.COM -- Berikut ini ulasan mengenai kosakata bahasa semarangan yang bisa Anda ketahui.

Adapun kosakata bahasa semarangan kali ini merupakan lanjutan artikel sebelumnya.

Yang mana, kosakata bahasa semarangan kali ini akan dimulai dari ongkang-ongkang hingga padhalan. Apa saja artinya, simak ulasannya di bawah ini.

Blaik, dewe isa telat ki, piye jal (Wah kita bisa terlambat, terus bagaimana ini? Kalimat di atas menjadi bahasa tutur khas Semarangan yang sering didengar.

Selain tingkat turun kata cenderung ngoko, keunikan lain dari bahasa Semarangan adalah dapat dikenali lewat cara pengucapan yang lugas dan hampir diakhiri dengan partikel "ik, ok, deng, ta, atau jal".

Baca Juga: Rekomendasi Enam Toko Alat Pancing Berkualitas di Semarang, Banyak Koleksi dan Harga Bersahabat

Hartono Samidjan, peneliti bahasa Kota Semarang dan penulis buku Halah Pokokmen mengatakan, paartikel "ok" biasanya berfungsi memberikan penekanan pada kata kerja dalam kalimat pernyataan.

"Contohnya, 'aku wis bali ok (saya sudah pulang), aku bar mangan ok (aku sudah makan), dhekne durung reti ok (dia belum tahu)'," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Partikel "ta", lanjut Hartono, biasanya erat hubungannya untuk penekanan pada kata keterangan dalam kalimat pernyataan.

Halaman:

Editor: Vedyana Ardyansah

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X