Menunggu Solar, Nelayan di Kendal Rela Tidur di SPBUN

- Rabu, 21 September 2022 | 16:05 WIB
Sejumlah nelayan memilih tidur di sekitar SPBUN Gempolsewu untuk mendapatkan pasokan solar. (edi prayitno/kontributor Kendal)
Sejumlah nelayan memilih tidur di sekitar SPBUN Gempolsewu untuk mendapatkan pasokan solar. (edi prayitno/kontributor Kendal)

KENDAL, AYOSEMARANG.COM -- Nelayan di Kendal rela tidur di Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum Nelayan (SPBUN) di TPI Tawang Desa Gempolsewu Rowosari untuk bisa mendapatkan jatah solar. Pasokan solar yang kerap terlambat dan sedikit ini, dikeluhkan nelayan karena menunggu hingga dua hari. Akibatnya nelayan banyak yang tidak melaut karena kesulitan mendapatkan pasokan solar di SPBUN.
Pemandangan ratusan jerigen menumpuk dan antre panjang masih terjadi di SPBUN 4851301 Desa Gempolsewu Rabu 21 september 2022 . Tidak jarang nelayan meninggalkan jerigen menumpuk karena belum pasti kapan pasokan solar dikirim ke SPBUN ini.
Sejumlah ibu-ibu yang setia menunggu pasokan datang hanya duduk-duduk bahkan tiduran disekitar SPBUN khawatir tidak kebagian solar untuk perahunya. Pasokan yang dikirim terkadang tidak mencukupi untuk kebutuhan nelayan di Gempolsewu, sehingga banyak yang tidak kebagian.
Nelayan yang sebagian besar diwakilkan istri atau keluarganya saat mengantre rela menunggu hingga berhari-hari. Tidak hanya mengantre dengan jerigennya saja, mereka juga rela tidur di emperan warung sekitar SPBUN menunggu jatah BBM bersubdisi yang hanya dua kali dalam sepekan.
“Kadang datangnya tidak pasti kapan jadi terpaksa nunggu lama di sini, bahkan sampai tiduran agar bisa kebagian jatah,” ujar Wati.
Untuk jatah tiap nelayan berbeda, tergantung rekomendasi sesuai ukuran besar kecilnya kapal dan jumlah mesinya. “Jatahnya beda-beda ada yang 40 liter, 60 hingga 70 liter namun demikian nelayan tidak bisa mencari ikan dengan maksimal karena mengikuti adanya pasokan bahan bakar yang ada,” kata Waliyah.
Petugas SPBUN Tawang, Zaky Nur Komar mengatakan dalam penyaluran solar para neayan harus memilik rekomendasi dari pihak terkait.”Nelayan juga wajib menggunakan kupon untuk menebus solar yang dijatah 2 hari sekali dalam seminggu,” terangnya.
Dikatakan sejak bulan Agustus sampai September ini pasokan dari pertamina sendiri terus berkurang dari sebelum kenaikan harga. Biasanya dikirim 32 tangki tetapi saat ini hanya 22 tangki dengan kapasitas ukuran 16 ribu liter setiap bongkar. “Mengatisipasi penyalahgunaan dalam penyaluran petugas mewajibkan nelayan yang akan menebus jatah solar membawa surat rekomendasi dan menerima kupon antrian,” imbuh Zaki.
Kelangkaan solar dan sulitnya mendapat pasokan bahan bakar untuk perahunya mengancam ratusan nelayan di Gempolsewu tidak bisa melaut lagi. Kondisi ini diperparah dengan kondisi cuaca yang kurang bersahabat bagi nelayan untuk mencari ikan di perairan kendal.

Editor: Akbar Hari Mukti

Tags

Terkini

X