Dugderan Tradisi Penyambutan Bulan Suci Ramadhan di Kota Semarang yang Penuh Makna Kebaikan dan Toleransi

- Senin, 13 Maret 2023 | 20:12 WIB
Warak Ngendog sebagai ikon Dugderan di Kota Semarang.  (Ayosemarang.com)
Warak Ngendog sebagai ikon Dugderan di Kota Semarang. (Ayosemarang.com)

AYOSEMARANG.COM -- Kota Semarang memiliki tradisi unik dalam menyambut bulan Suci Ramadhan yaitu Dugderan

Dugderan yang biasa dilaksanakan di Simpang Lima ini merupakan sebuah kegiatan pemukulan bedug dan ledakan petasan.

Yang akhirnya menjadi awal dari penamaan Dugderan, yaitu "Dug" simbol bedug masjid dan “Der” dari suara petasan.

Baca Juga: Cari Jajanan Khas Semarangan? Berikut 13 Lokasi Pusat Oleh-oleh di Semarang, Ada Wingko Babat Hingga Lumpia

Dalam pelaksanaannya keduanya dilakukan secara bersama-sama sehingga disebut dengan Dugderan.

Konon Dugderan dilaksanakan pertama kali tahun 1862 – 1881 di masa pemerintahan kota Semarang dipimpin oleh Bupati Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat.

Kala itu penyelenggaraan kegiatan ini dengan maksud agar menyatukan perbedaan pendapat tentang awal Ramadhan.

Pada masa itu umat muslim di Semarang sering berbeda pendapat dalam penentuan awal puasa Ramadhan.

Baca Juga: Hutang Puasa Ramadhan Tahun Lalu Belum Dibayar, Ustadz Adi Hidayat Jelaskan Cara Bayarnya

Sehingga Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat mengambil kebijaksanaan dengan menggelar acara yang meriah ini.

Yang awal kegiatannya ditandai dengan pemukulan bedug sebanyak tujuh belas kali.

Lalu diikuti dentuman meriam sebanyak 7 kali karena memunculkan suara Dug dan Der sehingga disebut dengan Dugderan.

Tradisi ini biasanya digelar sepuluh hari sebelum memasuki Bulan Ramadhan.

Baca Juga: Kapan Awal Ramadhan 2023? Inilah Perhitungan Versi Muhammadiyah dan NU, Kamu Ikut yang Mana?

Halaman:

Editor: Regi Yanuar Widhia Dinnata

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X