Menyudahi Budaya Plagiarisme

- Jumat, 29 Oktober 2021 | 14:54 WIB
Usman Roin/Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro. (dok)
Usman Roin/Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro. (dok)

 

AYOSEMARANG.COM -- Kebahagiaan-pendidik –dalam hal ini dosen– bila melihat mahasiswanya “jujur” dalam membuat karya tulis ilmiah. Itulah yang penulis rasakan. Kebahagiaan itu utamanya dalam hal pencantuman sumber literatur (e-jurnal, e-book, buku fisik dan sebagainya) saat mahasiswa mengutip karya orang lain, pada pembuatan karya tulis yang dibuat berdasarkan panduan kepenulisan yang telah ada.

Kebahagiaan di atas adalah bukti, bila kejujuran akademik harus dijunjung tinggi oleh stakeholder perguruan tinggi (PT) di manapun itu. Idealisme penulis ini bukan tanpa dasar, melainkan, diperkuat pula secara argumentatif oleh kekritisan Prof. Masdar Hilmy dalam buku “Pendidikan Islam dan Tradisi Ilmiah” (2016:20), yang coba membandingkan pola pendidikan yang ada di Indonesia dan Australia.

Prof. Masdar dalam uraiannya, begitu gamblang, lugas, dan visioner, menggambarkan potret civitas akademika di Barat –University of Melbourne– yang sangat menghargai originalitas karya akademik yang dibuat mahasiswa. Sebaliknya, akademika Barat sangat membenci pencurian hak cipta intelektual seseorang yang mafhum disebut plagiat.

Deskripsi yang di sampaikan Prof. Masdar di atas, adalah pekerjaan rumah (PR) para dosen, pegiat literasi, penulis, kolumnis, peneliti, jurnalis, dan sebagainya untuk bersama-sama mengampanyekan sadar, jujur, dan belajar cerdas menghargai karya intelektual yang ditelorkan orang lain. Tentu, bila “kita” diposisikan sebagai person “intelektual” yang dibajak karyanya, sungguh betapa sakitnya dada ini. “Sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku”, kalau boleh penulis kutip bait lagu pedangdut Cita Citata.

Plagiarisme

Bicara plagiarisme sendiri, meminjam terminologi KBBI online diartikan sebagai proses penjiplakan yang melanggar hak cipta. Hal itu diperjelas pula dalam Permendiknas No. 17 Tahun 2010 yang menyebutkan, bahwa plagiat ialah perbuatan sengaja atau tidak dalam memeroleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan cara mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah orang lain, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai.

Jika maknawiyahnya seperti itu, tentu plagiarime harus dikikis, dan perlu dilakukan upaya preventif sejak dini. Artinya, mulai dari semester awal, mahasiswa sudah diperkenalkan dengan rambu-rambu “haramnya” plagiasi, lalu bentuk, dan cara menghindarinya.

Jika tidak, paradigma “instan” dalam membuat karya tulis akan membudaya, yang menurut Koentjaraningrat yang dikutip Prof. Abintoro Prakoso (2019:75), salah satu wujud budaya bisa diidentifikasi dari terpolanya kompleksitas aktivitas kelakuan manusia dan masyarakat. Praksisnya, kebiasaan “copy” dan kemudian “paste”, “gunting-tempel”, di era kemelimpahan sumber informasi menjadi perilaku yang ringan sekali dilakukan.

Bila kemudian dibiarkan, akan menjadi karakter yang kemudian menjadi justifikasi bila hal itu “halal” dilakukan. Alhasil, dari “halal” individual berujung “halal” pula secara komunal. Padahal, perbuatan itu sangat bertentengan dengan moralitas ilmuan, yakni ketidakjujuran dalam kegiatan ilmiah.

Halaman:

Editor: adib auliawan herlambang

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Wedang Ronde, Budaya Kuliner Tionghoa di Nusantara

Selasa, 28 Desember 2021 | 13:46 WIB

Mencermati YouTubers Politik

Senin, 27 Desember 2021 | 16:32 WIB

Badan Layanan Umum Daerah, SKPD Spesial

Kamis, 23 Desember 2021 | 10:53 WIB

Kategori Mendidik Keblinger

Rabu, 15 Desember 2021 | 16:24 WIB

Menguatkan Sektor Pendidikan Dalam Upaya Belanegara

Senin, 13 Desember 2021 | 13:00 WIB

BEM UPGRIS Peduli Desa di Jragung Karangawen, Demak

Senin, 6 Desember 2021 | 14:41 WIB

Mengenal TPQ Darul Kafalah Demak

Senin, 6 Desember 2021 | 14:31 WIB

Mencermati Informasi Asumtif

Senin, 29 November 2021 | 12:16 WIB

Hikmah Diterapkannya PPKM Level 3

Sabtu, 27 November 2021 | 18:33 WIB

Tanamkan Rasa Dalam Hubungan

Senin, 22 November 2021 | 09:59 WIB

Sulitnya Mencari Penerus Dalang Wayang Potehi

Rabu, 17 November 2021 | 15:56 WIB

Berpihak pada Korban Revenge Porn

Rabu, 17 November 2021 | 13:58 WIB

Menyoal Keinferioran Pemirsa

Minggu, 14 November 2021 | 20:33 WIB

Menyudahi Budaya Plagiarisme

Jumat, 29 Oktober 2021 | 14:54 WIB
X