Menyoal Keinferioran Pemirsa

- Minggu, 14 November 2021 | 20:33 WIB
Gunawan Witjaksana, Dosen Tetap Ilmu Komunikasi USM.  (dok)
Gunawan Witjaksana, Dosen Tetap Ilmu Komunikasi USM. (dok)


Para pengelola stasiun televisi swasta tampaknya makin lupa bahwa selama ini mereka meminjam frequensi milik pemirsa melalui negara yang diwakili Kementerian Kominfo.

Sangat ketatnya persaingan, terlebih saat ini media sosial (medsos) yang juga tampil audio visual makin banyak termasuk kemampuannya menyerap belanja iklan, maka tampak makin seringlah mereka melanggar UU No.32 tahun 2002 tentang Penyiaran, yang dalam salah satu Pasalnya jelas melarang blocking time.

Selain model iklan- iklan bamper yang sangat tidak etis, bahkan dalam Minggu ini ada dua tayangan blocking time yang dilakukan stasiun televisi, dengan mengakomodasi dua perusahaan raksasa.

Baca Juga: DERETAN Film Indonesia Peraih Piala Citra Terbanyak Sepanjang Sejarah, Terbaru Penyalin Cahaya

Pemirsa pun dibuat tidak punya pilihan sekaligus tidak berdaya, tatkala tayangan pilihan yang mereka nantikan tergusur selama dua hari berturut- turut, meski ada juga yang tergusur jam tayangnya hingga larut malam.

Pertanyaannya, pantaskah bila sang empunya frequensi yang idealnya menjadi perhatian utama dalam pelayanan, justru mereka jadikan pelengkap penderita? Sudah sangat tidak berdayakan KPI mengembalikan pengelola televisi sebagaimana komitmen saat mengajukan perijinan saat itu?

Dilema
Memang cukup susah menyelaraskan ketatnya persaingan yang berdampak pada ketatnya perebutan kue iklan, dengan kewajiban mereka melayani secara optimal para pemilik frequensi sesuai dengan amanat UU Penyiaran.

Saking dilemanya , maka UU Penyiaran pun akhirnya dilanggarnya, karena mungkin saja mereka berdalih toh tayangan blocking time tersebut tidak kalah menarik dibanding tayangan yang tergusur.

Baca Juga: Istri Lagi Bersih-bersih Lemari Malah Temukan Foto Suaminya Bareng Mantan, Reaksinya Bikin Netizen Emosi

Lebih celakanya lagi, di balik tayangan blocking time tersebut terdapat pesan- pesan komunikasi manipulatif, antara lain dengan iming-iming produk gratis atau terkesan sangat murah.

Halaman:

Editor: arri widiarto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Wedang Ronde, Budaya Kuliner Tionghoa di Nusantara

Selasa, 28 Desember 2021 | 13:46 WIB

Mencermati YouTubers Politik

Senin, 27 Desember 2021 | 16:32 WIB

Badan Layanan Umum Daerah, SKPD Spesial

Kamis, 23 Desember 2021 | 10:53 WIB

Kategori Mendidik Keblinger

Rabu, 15 Desember 2021 | 16:24 WIB

Menguatkan Sektor Pendidikan Dalam Upaya Belanegara

Senin, 13 Desember 2021 | 13:00 WIB

BEM UPGRIS Peduli Desa di Jragung Karangawen, Demak

Senin, 6 Desember 2021 | 14:41 WIB

Mengenal TPQ Darul Kafalah Demak

Senin, 6 Desember 2021 | 14:31 WIB

Mencermati Informasi Asumtif

Senin, 29 November 2021 | 12:16 WIB

Hikmah Diterapkannya PPKM Level 3

Sabtu, 27 November 2021 | 18:33 WIB

Tanamkan Rasa Dalam Hubungan

Senin, 22 November 2021 | 09:59 WIB

Sulitnya Mencari Penerus Dalang Wayang Potehi

Rabu, 17 November 2021 | 15:56 WIB

Berpihak pada Korban Revenge Porn

Rabu, 17 November 2021 | 13:58 WIB

Menyoal Keinferioran Pemirsa

Minggu, 14 November 2021 | 20:33 WIB

Menyudahi Budaya Plagiarisme

Jumat, 29 Oktober 2021 | 14:54 WIB
X