Mencermati Informasi Asumtif

- Senin, 29 November 2021 | 12:16 WIB
Drs Gunawan Witjaksana MSi, Dosen Tetap Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM). (dok ayosemarang.)
Drs Gunawan Witjaksana MSi, Dosen Tetap Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (USM). (dok ayosemarang.)


Pemerintah Indonesia melalui Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjahitan menyampaikan penutupan kunjungan dari sebelas negara yang terindikasi adanya varian omicron.

Meski demikian, menurutnya masyarakat tidak perlu panik, karena para ahli sedang melakukan penelitian terkait kecepatan penyebarannya, meski ada yang mengasumsikan 500 persen lebih cepat dibanding varian lainnya.

Tak kurang WHO pun menyatakan terlalu dini mengasumsikan keparahannya ( Kompas.Com, 29 November 2021).

Pernyataan WHO tersebut sedikit melegakan, karena hingga saat ini pun para ahli sedang melakukan penelitian mendalam, namun hal tersebut bertolakbelakang dengan info- info asumtif, utamanya yang tersebar melalui berbagai media sosial( medsos).

Baca Juga: Profil Ameer Azzikra, Bisnis hingga Alasan Nikah Muda, Biodata Ameer yang Meninggal Dunia di Usia Muda

Celakanya info- info asumtif yang berlebihan itu sering difahami masyarakat yang belum melek komunikasi sebagai informasi yang benar. Dampaknya tentu ada yang menjadi paranoid, namun sebaliknya justru membuat sebagian yang beranggapan semua info terkait covid-19 itu bohong.

Mereka inilah yang akhirnya beranggapan kebijakan PPKM yang masih diperpanjang pemerintah itu berlebihan, termasuk pemberlakuan level 3 saat libur natal dan tahun baru.

Karena itu, alangkah baiknya bila seluruh masyarakat merenung sembari bertanya dalam hati, apakah tidak sebaiknya pengalaman pahit ledakan gelombang dua serta tepatnya penanganan pasca hal tersebut yang dipedomani?, Serta bagaimana sebaiknya masyarakat menyikapi berbagai informasi asumtif terkait covid-19, yang nadanya makin menakutkan?

Asumtif
Yang sedang banyak beredar saat ini adalah varian omicron dengan tingkat keganasannya yang berlipat. Padahal info- info tersebut masih atas dasar perkiraan para ahli yang kebenarannya masih di dalami.

Sayangnya, justru informasi asumtif semacam itulah yang frequensi kemunculannya berlebih, sehingga lebih dominan dan akhirnya lebih dipercaya, atau sebaliknya oleh sebagian lainnya semua info dianggap bohong belaka, terlebih melihat kondisi masyarakat yang makin baik saat ini.

Halaman:

Editor: arri widiarto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Wedang Ronde, Budaya Kuliner Tionghoa di Nusantara

Selasa, 28 Desember 2021 | 13:46 WIB

Mencermati YouTubers Politik

Senin, 27 Desember 2021 | 16:32 WIB

Badan Layanan Umum Daerah, SKPD Spesial

Kamis, 23 Desember 2021 | 10:53 WIB

Kategori Mendidik Keblinger

Rabu, 15 Desember 2021 | 16:24 WIB

Menguatkan Sektor Pendidikan Dalam Upaya Belanegara

Senin, 13 Desember 2021 | 13:00 WIB

BEM UPGRIS Peduli Desa di Jragung Karangawen, Demak

Senin, 6 Desember 2021 | 14:41 WIB

Mengenal TPQ Darul Kafalah Demak

Senin, 6 Desember 2021 | 14:31 WIB

Mencermati Informasi Asumtif

Senin, 29 November 2021 | 12:16 WIB

Hikmah Diterapkannya PPKM Level 3

Sabtu, 27 November 2021 | 18:33 WIB

Tanamkan Rasa Dalam Hubungan

Senin, 22 November 2021 | 09:59 WIB

Sulitnya Mencari Penerus Dalang Wayang Potehi

Rabu, 17 November 2021 | 15:56 WIB

Berpihak pada Korban Revenge Porn

Rabu, 17 November 2021 | 13:58 WIB

Menyoal Keinferioran Pemirsa

Minggu, 14 November 2021 | 20:33 WIB

Menyudahi Budaya Plagiarisme

Jumat, 29 Oktober 2021 | 14:54 WIB
X