Karakter: Tantangan Pendidikan Daring Masa Pandemi

- Minggu, 11 Oktober 2020 | 09:07 WIB
--Nurul Hidayah, Mahasiswi PAI STAINU TEMANGGUNG
--Nurul Hidayah, Mahasiswi PAI STAINU TEMANGGUNG

AYOSEMARANG.COM-- Pandemi virus covid-19 membawa perubahan bagi segala sektor termasuk dalam sektor pendidikan. Sekolah yang biasanya dipenuhi aktivitas pembelajaran menjadi sepi karena diganti dengan platform pendidikan berbasis internet. Wacana mengenai pembelajaran jarak jauh akan dipermanenkan menuai pro dan kontra. Banyak pihak yang setuju dengan wacana tersebut namun tidak sedikit pula yang mengkritikinya termasuk para guru dan dosen sebagai fasilitator pendidikan. Tidak semua sekolah dan kampus siap dengan metode pembelajaran daring. Faktanya, proses pendidikan selama ini lebih banyak menggunakan mekanisme tatap muka.

Di media sosial para orang tua dan murid mengeluh dengan mekanisme pembelajaran yang hanya tugas, tugas, dan tugas tanpa adanya feedback dari pendidik. Keluhan ini bisa jadi disebabkan karena pendidik tidak terbiasa dengan metode pembelajaran daring. Pendidik dituntut harus menguasai teknologi bahkan jaringan internet yang memadai sebagai akses mengajar. Begitu juga dengan peserta didik. Belum lagi orang tua yang bukan hanya bertugas mengurus rumah kini harus menggantikan peran guru kepada anaknya. Sementara, kemendikbud memutuskan bahwa pembelajaran daring akan dilaksanakan hingga akhir 2020. Lantas bagaimana nasib pendidikan selanjutnya?

Para pendidik harus memodifikasi rencana pembelajaran sedemikian rupa agar metode yang digunakan tepat dan dipahami oleh peserta didik. Tantangan tersebut bukan hanya terletak pada bagaimana metode untuk transfer ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana pembelajaran daring tetap fokus pada pendidikan karakter. Hal ini dikarenakan bahwa pendidikan bukan hanya transfer of knowledge tetapi juga transfer of value yang mana peran guru sangat dibutuhkan dan tidak dapat digantikan dengan teknologi secanggih apapun. Tentu tidak mudah bagi seorang pendidik untuk memantau bagaimana perkembangan karakter peserta didik dalam situasi yang tidak bisa memantau secara langsung.

AYO BACA : Mahasiswa KKNT-UPGRIS Datangi Rumah Siswa Dampingi Belajar

Sesuai dalam Surat Edaran Mendikbud Nomor 5 Tahun 2019 tentang Kegiatan Penumbuhan Wawasan Kebangsaan Dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, kurikulum 2013 ini pemerintah mengedepankan pendidikan karakter yang nantinya dapat meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara seimbang sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan.

Ada beberapa nilai pendidikan karakter yang beberapa diantaranya menjadi actual dimasa pandemi covid-19 ini. Pertama disiplin, disiplin yang merujuk pada patuh dan tertibnya peserta didik dalam menaati peraturan. Dalam situasi pembelajaran tatap muka, peserta didik terbiasa untuk mematuhi peraturan dengan memakai seragam sesuai jadwal dan topi saat upacara bendera. Tiba-tiba pada masa pandemi covid-19 mereka belajar dirumah tanpa memakai seragam. Tentu suasananya berbeda. Kedua, jujur. Ketika ujian ataupun mengerjakan tugas dari guru peserta didik cenderung mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh karena guru memantau dalam kelas. Berbeda ketika mengerjakan ujian secara daring, keseriusan peserta didik dalam mengerjakan ujian berkurang bahkan mengundang peserta didik melakukan plagiarisme karena tanpa pengawasan dari guru meskipun orang tua mendampinginya, tentu pengawasan guru dan orang tua itu berbeda.  Ketiga tanggungjawab, dalam sistem tatap muka peserta didik biasanya ada aktivitas piket harian. Hal tersebut ditujukan untuk melatih peserta didik agar bertanggungjawab terhadap tugasnya, berbeda ketika sistem daring yang mana anak-anak cenderung tidak memikirkan lingkungan sekitar karena merasa sudah menjadi tanggungjawab orang tua.

Tentu tidak mudah bagi seorang guru untuk mencari jalan keluar atas permasalahan pembelajaran daring ini, namun guru tetap dituntut untuk mencari solusi sebagai kosekuensi sebagai seorang pendidik. Hal pertama yang dapat dilakukan oleh guru adalah menjaga komunikasi dengan murid, misalnya dengan teguran atau sapaan setiap pagi. Maksud dari aktivitas tersebut adalah untuk menjaga semangat dan mengingatkan kembali bahwa guru selalu memantau dan menjadi teladan bahwa sikap ramah itu sangat penting. Kedua, meningkatkan rasa disiplin. Dapat diterapkan ketika guru melakukan pembelajaran, biasanya waktu pembelajaran sudah terjadwal,  guru dapat melakukan pembelajaran sesuai waktu yang telah ditentukan tanpa mengurangi ataupun menambah jam mata pelajaran.

AYO BACA : Dinamika Kotak Kosong dalam Pilkada

Tanggungjawab, rasa tanggungjawab akan muncul apabila guru dan peserta didik paham akan tugasnya, guru mengajar dan peserta didik mengikutinya. Dengan demikian mereka mampu menyelasaikan tugas masing-masing dengan mandiri. Tanggungjawab ini bukan hanya sebatas penyelesaian tugas sekolah, peserta didik juga dituntut bertanggungjawab atas posisinya di rumah. Misalnya bagaimana peran dan tanggungjawab  sebagai kakak yang mana menjaga adiknya, peran adik yang menuruti kakanya, peran bapak dan ibu yang mendidik anak-anaknya. Tidak selesai sampai di situ saja, tanggungjawab dalam lingkungan sekitar juga sangat penting. Bagaimana bertanggungjawab sabagai anggota masyarakat.

Halaman:

Editor: Abdul Arif

Tags

Terkini

Mudik, Thomas Cup, dan Sea Games

Senin, 16 Mei 2022 | 19:23 WIB

Kebijakan Cukai Minuman Berpemanis di Indonesia

Senin, 25 April 2022 | 19:43 WIB

Efisienkah Tilang Elektronik di Kota Solo?

Senin, 25 April 2022 | 19:30 WIB

Menyoal Kenaikan Harga Pertamax

Senin, 25 April 2022 | 13:59 WIB

PPN Naik Menjadi 11%, Tepatkah Kebijakan Ini?

Senin, 25 April 2022 | 12:43 WIB

Kripto Untuk Siapa?

Senin, 18 April 2022 | 11:26 WIB

Belajar Tanpa (Merasa) Digurui

Senin, 18 April 2022 | 11:05 WIB

Efektivitas Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Minggu, 17 April 2022 | 18:54 WIB

Tentang Daftar Pustaka

Minggu, 17 April 2022 | 18:43 WIB

Sejarah Singkat Ceng Beng Atau Ziarah Kubur

Kamis, 14 April 2022 | 15:45 WIB

Klitih dan Utopia Penegakan Hukum Pelaku Anak

Kamis, 7 April 2022 | 11:19 WIB

Menyikapi dan Mewaspadai Informasi

Minggu, 3 April 2022 | 20:56 WIB

Mencermati Perhelatan MotoGP Mandalika

Senin, 21 Maret 2022 | 19:12 WIB

Falsafah Menulis

Selasa, 8 Maret 2022 | 12:14 WIB
X