Sadar Diri Modal Awal Hadapi Pandemi

- Selasa, 13 Oktober 2020 | 15:20 WIB
[Ilustrasi] Virus korona. (dok)
[Ilustrasi] Virus korona. (dok)

AYOSEMARANG.COM -- Kehadiran virus Covid-19 telah meresahkan umat manusia hampir di seluruh dunia. Virus ini telah berhasil memporak-porandakan kehidupan manusia hampir dalam semua aspek kehidupan. Mulai dari kesehatan, pendidikan, sosial, bahkan ekonomi. 

Dalam bidang pendidikan, Covid-19 ini sangat berdampak. Yang semula pembelajaran dilakukan secara langsung atau tatap muka, sekarang harus melalui daring. Kasus ini menimbulkan banyak kontroversi. Mulai dari protes orang tua tentang anaknya yang hari-harinya hanya bergelut dengan gawai. Masalah tidak punya kuota yang menjadi aspek utama dalam pembelajaran daring. Susahnya sinyal bagi anak anak pinggiran yang mebuat proses belajar mereka terkendala. Semua ini menimbulkan protes besar-besaran kepada pemerintah. Khususnya menteri pendidikan. Padahal semua ini di luar kendali mereka. Mereka pun telah berjuang keras memikirkan bagaimana solusi dari semua permasalahan tadi. Tapi semua memang di luar kontrol manusia. Nyatanya kondisi pendidikan di Indonesia semakin memprihatinkan. 

Di bidang sosial, adanya pandemi ini mengakibatkan kurangnya keharmonisan dalam masyarakat. Semua kegiatan dalam skala besar dibatasi. Kegiatan-kegiatan yang bersifat kerumunan ditiadakan. Semua menjadi berantakan. Sehingga media sosial dijadikan sebagai perantara mempererat hubungan bermasyarakat. 
\nDalam bidang ekonomi, pengangguran semakin melunjak. Ribuan pegawai terpaksa di PHK, para petani menangis karena harga hasil panen anjlok, ribuan pedagang mengeluh bangkrut, dan masih banyak pekerjaan yang terpaksa mereka lepaskan, karena keadaan yang kian hari semakin morat marit. Kehilangan pekerjaan sebagai penopang hidup, sementara hidup harus tetap dijalani. Membuat keresahan masyarakat semakin meningkat. Manusia semakin dituntut untuk sekreatif mungkin mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Solusinya, mereka menciptakan pekerjaan sendiri dengan hadirnya produk handmade yang kini merebak di pasaran. Mulai dari makanan, pernak-pernik, dan kerajinan lainnya.

Di bidang kesehatan, bukan semakin surut kasus Covid-19 ini semakin hari semakin memuncak. Pasien terpapar semakin melunjak, pasien tanpa gejala pun semakin meningkat, seiring dengan tugas tenaga kesehatan yang semakin berat. OTG (Orang Tanpa Gejala) leluasa ke sana ke mari tanpa menyadari kehadirannya membawa dampak buruk bagi orang-orang di sekitarnya. Namun tak sedikit dari mereka yang masih bandel dan tak menghiraukan himbauan dari pemerintah, khususnya tenaga medis.

AYO BACA : Mahasiswa KKN-T UPGRIS Adakan Bimbingan Jasmani di Masa Pandemi

Diberlakukannya era new normal, karena pemerintah beranggapan masyarakat perlu berusaha untuk melanjutkan kelangsungan hidup mereka. Agar mereka tetap bisa bekerja seperti biasanya, dengan syarat mengikuti protokol kesehatan yang telah disampaikan.  Tapi ternyata tak sedikit masyarakat yang dengan senangnya melanggar protokol kesehatan tersebut. Mereka lebih membesarkan ego mereka, ketimbang kesehatan dan keselamatan hidup mereka. Apakah mereka lupa, mereka berjuang demi kelangsungan hidup? Lalu apa gunanya mati-matian bekerja tapi pada akhirnya harus kehilangan nyawa? 
\nBerbagai imbauan dan peringatan telah digalakkan pemerintah untuk masyarakat. Melonjaknya kasus Covid-19, menimbulkan kerugian bagi semua lapisan dalam masyarakat. Namun juga tak sedikit yang dengan lantang menepis perkara ini. Mereka beranggapan bahwa Covid-19 hanyalah konspirasi para kaum atas sebagai bentuk politik praktis yang berdampak pada masyarakat kecil. 

Disinilah seharusnya peran pemerintah lebih diharapkan mampu memberikan pengertian kepada masyarakat terkait kasus Covid-19 ini. Tentunya tanpa unsur menakut-nakuti. Karena diakui atau tidak, lonjakan kasus ini bergantung kepada masyarakat. Jika masyarakat mampu hidup di era new normal dengan mematuhi protokol kesehatan, mungkin kasus ini akan sedikit menurun.  

Masalah Covid-19 ini bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga medis, namun menjadi tanggung jawab semua pihak dalam kehidupan. Anggapan bahwa tenaga medis menjadi garda terdepan dalam penanganan kasus ini, bahkan dibantah oleh IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Penanganan Covid-19 ini menjadi tanggung jawab bersama. Bahkan masyarakat lah yang menjadi garda terdepan. Karena cepat lambatnya penyebarannya tergantung bagaimana masyarakat dalam mematuhi dan menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari di era new normal ini. Pada kenyataannya, mereka malah bertolak belakang dengan yang diharapkan. 

Sekarang kita sebagai masyarakat awam yang tidak memahami masalah serumit ini, harusnya menghargai usaha mereka. Baik dari tenaga medis maupun dari pemerintah. Jika tidak mampu turut membantu dalam penanganan, setidaknya kita tidak ikut dalam penambahan jumlah kasus ini. Sebagai contohnya kita mematuhi protokol yang dibuat. Karena semua protokol itu dibuat juga demi kebaikan bersama. Semboyan yang kini digalakkan yaitu 3 M. Mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak, tidak lain dibuat sebagai usaha pemerintah dalam mencegah penularan mata ranteai virus Covid-19. Tiga hal tersebut tidaklah sebanding dengan usaha mereka dalam bidang medis. Lalu apakah kita masih mau membantah?

Halaman:

Editor: Abdul Arif

Tags

Terkini

Mudik, Thomas Cup, dan Sea Games

Senin, 16 Mei 2022 | 19:23 WIB

Kebijakan Cukai Minuman Berpemanis di Indonesia

Senin, 25 April 2022 | 19:43 WIB

Efisienkah Tilang Elektronik di Kota Solo?

Senin, 25 April 2022 | 19:30 WIB

Menyoal Kenaikan Harga Pertamax

Senin, 25 April 2022 | 13:59 WIB

PPN Naik Menjadi 11%, Tepatkah Kebijakan Ini?

Senin, 25 April 2022 | 12:43 WIB

Kripto Untuk Siapa?

Senin, 18 April 2022 | 11:26 WIB

Belajar Tanpa (Merasa) Digurui

Senin, 18 April 2022 | 11:05 WIB

Efektivitas Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Minggu, 17 April 2022 | 18:54 WIB

Tentang Daftar Pustaka

Minggu, 17 April 2022 | 18:43 WIB

Sejarah Singkat Ceng Beng Atau Ziarah Kubur

Kamis, 14 April 2022 | 15:45 WIB

Klitih dan Utopia Penegakan Hukum Pelaku Anak

Kamis, 7 April 2022 | 11:19 WIB

Menyikapi dan Mewaspadai Informasi

Minggu, 3 April 2022 | 20:56 WIB

Mencermati Perhelatan MotoGP Mandalika

Senin, 21 Maret 2022 | 19:12 WIB

Falsafah Menulis

Selasa, 8 Maret 2022 | 12:14 WIB
X