Kegagapan Pengajar dan Siswa di Masa Pandemi

- Rabu, 21 Oktober 2020 | 20:05 WIB
Mifrokhatun Khasanah, Mahasiswa PAI di STAINU Temanggung. (dok)
Mifrokhatun Khasanah, Mahasiswa PAI di STAINU Temanggung. (dok)

AYO BACA : KKN dari Rumah, Mahasiswa UIN Walisongo Ini jadi Pengurus Masjid di Kampung sjid di Kampung, pada URL https://www.ayosemarang.com/read/2020/10/18/65541/kkn-dari-rumah-mahasiswa-uin-walisongo-ini-jadi-pengurus-masjid-di-kampung Penulis: Abdul Arif Editor : Abdul Arif

AYO BACA : Justifikasi atau Dialog

AYOSEMARANG.COM -- Sekolah adalah kewajiban bagi setiap anak generasi penerus bangsa, di mana pemerintah mewajibkan pendidikan wajib belajar 9 tahun bagi setiap anak. Yang mana yaitu Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP).
 
Adapun kegiatan belajar mengajar dilakukan secara tatap muka, yang mana itu adalah kegiatan sewajarnya atau rutinitas yang dilakukan oleh seorang guru dan siswa setiap harinya, tidak yang akan menyangka keadaan berubah 1800 setelah adanya wabah virus COVID-19 di Tanah Air.
 
Wabah Virus Covid-19 masuk ke Tanah Air kita diakhir 2019, yang kemudian di bulan April tahun 2020 pemerintah menerapkan sistem pembelajaran secara online secara bertahap, dimulai dari sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), dan sekolah Dasar, yang kemudian karena bertambahnya orang yang terpapar Virus COVID-19, maka pemerintahpun mewajibkan semua Pendidikan dilakukan secara online baik dari Pendidikan terbawah sampai Pendidikan teratas.
 
Pembelajaran Daring dimulai untuk masa percobaan beberapa bulan saja, karena pemerintah berharap kondisi akan segera membaik dan bisa langsung diadakan pembelajaran secara tatap muka kembali, Pemerintah mengakui dunia teknologi Indonesia belum secanggih negara yang lain, begitu juga dengan  Sumber Daya Manusianya.
 
Yang menjadi masalah dalam pembelajaran secara online beberapa dari masalah lainnya yaitu, kegagapan dalam menggunakan kecanggihan internet yang semakin berkembang di Era Milenial seperti sekarang.
 
Seorang guru dan siswa  dituntut untuk menguasai teknologi demi terciptanya system pembelajaran yang professional dan tetap berkualitas. Akan tetapi kenyataannya tidak semudah membalikan tangan, seperti wabah virus COVID-19 yang datang tanpa terencana, begitupun seorang guru dan siswa masih banyak yang belum memiliki pemahaman Platform-platform internet dan bahkan tidak semua siswa memiliki handpone pintar ( Smartphone ).
 
Ada beberapa pilihan Platform untuk mengelola kelas online, seperti Zoom, Google Drive, Google Class, Whatsapp, dan masih banyak lainnya.
 
Media pembelajaran yang canggih seperti ZOOM yang lebih kaya dengan fiture nya bisa mempresentasikan materi dengan audionya, Google Drive bisa menyimpan data-data kapasitas banyak dengan share linknya, Google Class bisa join untuk perkelas untuk pengiriman materi dan hasil tugas,WhatsApp yang bisa mengirim file, photo.
 
Tidak semua guru dan siswa menguasai teknologi yang berkembang sekarang, bahkan lebih banyak yang gagap dengan teknologi, jadi saat melakukan pertemuan menggunakan aplikasi Zoom, Google Drive atau Google Classroom tidak sedikit yang kebingungan.
 
Jadi bagaimana mereka mau maksimal dalam pengajaran secara online, begitu juga dengan siswanya, banyak kendala yang dimilik dari segi, tidak adanya sinyal ditempatnya, dan bahkan mereka tidak memiliki kuota internet.
 
Saat sudah memahami cara penggunaan Aplikasi yang sudah disepekati dipakai pertemuan kelas itupun tidak menjami akan beerjalan lancer sampai akhir penjelasan materi, kadang terkendala sinyal, saat guru menjelaskan materi ada siswa yang kehilangan sinyal, sehingga pemahaman mereka tidak bisa 100%.
 
Dari kesulitan yang ada seperti karena gagapnya dengan internet atau kesusahana sinyal, bahkan bisa dikatakan ingin praktisnya saja tanpa berfikir kemaksimalannya banyak guru dan siswa yang sepakat hanya membuat pertemuan kelas lewat group lewat  platform Aplikasi WhatsApp, dimana guru hanya membagikan materi kemudian siswa belajar mandiri kemudian dikasih soal-soal.
 
Sebenarnya kurang efektik, karena siswa yang tidak memahami hanya akan melihat jawaban-jawaban melalui internet dan ada juga yang bertanya ke orang tuanya, dan saat orang tuanya tidak memahami akan menimbulkan tingkat kestressan juga untuk siswa dan orang tuanya. Dan bagaimana dengan anak yang orang tuanya tidak selalu dirumah ( Pekerja ) tidak bisa mengawasi anaknya dalam belajar online, itu menimbulkan kekhawatiran saat anak mengkases internet tanpa pendampingan.
 
Seharusnya saat pemerintah memutuskan pembelajaran daring semua system sudah tertata dengan baik meskipun wabah ini datang tanpa di duga, memberikan bekal kuota gratis untuk guru dan siswa, dan memberikan alternative saat siswa susah sinyal
 
Semoga kedaan segera membaik sehingga system pembelajaran bisa terlaksana seperi dahulu kala dan meahirkan generasi bangsa nyata yang bena-benar mengerti makna akan pembelajarannya.
 
-- Mifrokhatun Khasanah, Mahasiswa PAI di STAINU Temanggung

AYO BACA : Sinau Noto Ati

Editor: Abdul Arif

Tags

Terkini

Mudik, Thomas Cup, dan Sea Games

Senin, 16 Mei 2022 | 19:23 WIB

Kebijakan Cukai Minuman Berpemanis di Indonesia

Senin, 25 April 2022 | 19:43 WIB

Efisienkah Tilang Elektronik di Kota Solo?

Senin, 25 April 2022 | 19:30 WIB

Menyoal Kenaikan Harga Pertamax

Senin, 25 April 2022 | 13:59 WIB

PPN Naik Menjadi 11%, Tepatkah Kebijakan Ini?

Senin, 25 April 2022 | 12:43 WIB

Kripto Untuk Siapa?

Senin, 18 April 2022 | 11:26 WIB

Belajar Tanpa (Merasa) Digurui

Senin, 18 April 2022 | 11:05 WIB

Efektivitas Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Minggu, 17 April 2022 | 18:54 WIB

Tentang Daftar Pustaka

Minggu, 17 April 2022 | 18:43 WIB

Sejarah Singkat Ceng Beng Atau Ziarah Kubur

Kamis, 14 April 2022 | 15:45 WIB

Klitih dan Utopia Penegakan Hukum Pelaku Anak

Kamis, 7 April 2022 | 11:19 WIB

Menyikapi dan Mewaspadai Informasi

Minggu, 3 April 2022 | 20:56 WIB

Mencermati Perhelatan MotoGP Mandalika

Senin, 21 Maret 2022 | 19:12 WIB

Falsafah Menulis

Selasa, 8 Maret 2022 | 12:14 WIB
X