Sekolah Daring Bikin Darting?

- Jumat, 30 Oktober 2020 | 14:08 WIB
Sekolah Daring Bikin Darting? (dok)
Sekolah Daring Bikin Darting? (dok)

AYOSEMARANG.COM -- Masa ini adalah masa di mana manusia benar-benar mengandalkan media elektornik dalam melakukan semua kegiatan baik di bidang ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya. Ya.. semua terjadi karena datangnya virus Covid-19 ini, atau yang lebih dikenal dengan virus corona. Datangnya virus ke negeri ini merubah segala tatanan kehidupan menjadi seperti tidak normal. Seperti halnya dalam pendidikan muncullah istilah daring vs luring. Di mana pendidikan di masa pandemic di negeri ini dilakukan secara daring, namun ada beberapa wilayah yang dilakukan secara luring khusus untuk zona hijau.
Sebenarnya belum pernah terlintas di benakku bahwa sekolah bisa dilakukan tanpa menghadap guru, apalagi pelajaran matematika yang dijelaskan di depan guru saja tidak paham bagaimana dengan sistem daring? Yah.. belum lagi memikirkan orang tua dalam memahamkan anaknya, bisa jadi kan emaknya bawa sotil di pinggir meja agar anak mau belajar dan masih banyak strategi lain yang dilakukan orang tua secara unik demi anaknya mau belajar.

Saya tidak membayangkan bagaimana guru dalam mengajar siswa dengan kondisi seperti ini, dan bagaimana keriwehan orang tua menjadi guru di rumah untuk anaknya. Karena dikondisi ini diharuskan semua guru dan orang tua mampu mengoperasikan handphone atau media yang lain dalam pembelajaran daring ini. Kadang ada guru yang sudah sepuh dan harus bisa mengimbangi kemajuan terknologi, meski itu keharusan tapi ya kasihan juga ya.. begitu juga beberapa orang tua yang belum terbiasa dengan alat komunikasi tersebut juga harus ketat memantau putra-putrinya dalam proses pembelajaran.
Jika kita berpikir lebih mendalam tentang pendidikan yang sedang melanda di negeri tercinta ini, apa iya daring banyak dikeluhkan hingga ada yang menyebut daring darting. Apakah itu?

Sekolah Daring

Istilah daring memang sudah ada sejak dulu, namun nyatanya baru booming ketika virus corona ini masuk di Indonesia. Dulu tidak semua tau istilah daring, namun sekarang istilah daring dan luring diketahui masyarakat luas dan menjadi istilah yang umum di masyarakat saat ini. 
Dalam KBBI (2016) dijelaskan bahwa istilah daring memiliki arti dalam jaringan, terhubung melalui jaringan computer, internet dan sebagainya. Makna tersebut dapat diartikan bahwa adanya system komunikasi yang tidak dilakukan secara tatap muka melainkan menggunakan atau menghubungkan antara komunikan dengan menggunakan sebuah media baik computer maupun alat komunikasi lainnya. Sedangkan komunikasi yang dilakukan secara tatap muka seperti sebelum adanya virus corona biasa disebut dengan luring. Jadi sekolah daring adalah sekolah di mana pendidik dan pelajar tidak bertemu secara tatap muka melainkan dihubungkan dengan adanya media. 

AYO BACA : Guru PAUD Menyiasati Hidup

Karakteristik pembelajaran daring menurut Khoe Yao Tung (Tung, 2000:15), antara lain   materi ajar disajikan dalam bentuk teks, grafik dan berbagai elemen multimedia, komunikasi dilakukan secara serentak dan tak serentak seperti video conferencing, chats rooms, atau discussion forums, digunakan untuk belajar pada waktu dan tempat maya, dapat digunakan berbagai elemen belajar berbasis CD-ROM, untuk meningkatkan komunikasi belajar, materi ajar relatif mudah diperbaharui, meningkatkan interaksi antara mahasiswa dan fasilitator, memungkinkan bentuk komunikasi belajar formal dan informal, dapat menggunakan ragam sumber belajar yang luas di internet.

Dengan demikian banyak aplikasi pendukung dalam sekolah daring ini, di antaranya yang sering digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran seperti group whatsApp, dropbox, google classroom, zoom cloud meeting, dan masih banyak lagi. Meskipun setiap aplikasi memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Di antara banyak aplikasi yang sering digunakan sebagai penghubung komunikasi adalah group whatsApp dan proses belajar menggunakan media lainnya lagi. Alasan menggunakan  group whatsApp, menurut beberapa teman mahasiswa dikarenakan mudah, hemat kuota, dan terjangkau. Ya.. bisa diterima juga sih alasan ini, karena memang tidak semua pelajar dalam proses belajar mendapat kuota gratis. 

Permasalahan yang dialami ketika proses belajar secara daring mayoritas adalah  pemakaian kuota dan lemahnya sinyal. Mengingat guru dalam memberikan materi atau memahamkan siswa juga satu tingkat lebih sulit daripada biasanya, namun hal tersebut menjadikan guru lebih kreatif dari sebelumnya. Bagi saya sih, memang enak belajar secara luring karena bisa dijelaskan secara langsung, dapat bertanya dengan enak dan lebih paham bila bertemu langsung, kalau kamu lebih nyaman yang mana? Team daring atau luring? 

Meskipun ada permasalahan atau kelemahan dalam sekolah daring, namun proses pembelajaran ini memiliki manfaat yang disebutkan (Battes, 1997:15) di antaranya adalah  meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity), memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility), menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience), mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities). 

Halaman:

Editor: Abdul Arif

Tags

Terkini

Mudik, Thomas Cup, dan Sea Games

Senin, 16 Mei 2022 | 19:23 WIB

Kebijakan Cukai Minuman Berpemanis di Indonesia

Senin, 25 April 2022 | 19:43 WIB

Efisienkah Tilang Elektronik di Kota Solo?

Senin, 25 April 2022 | 19:30 WIB

Menyoal Kenaikan Harga Pertamax

Senin, 25 April 2022 | 13:59 WIB

PPN Naik Menjadi 11%, Tepatkah Kebijakan Ini?

Senin, 25 April 2022 | 12:43 WIB

Kripto Untuk Siapa?

Senin, 18 April 2022 | 11:26 WIB

Belajar Tanpa (Merasa) Digurui

Senin, 18 April 2022 | 11:05 WIB

Efektivitas Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Minggu, 17 April 2022 | 18:54 WIB

Tentang Daftar Pustaka

Minggu, 17 April 2022 | 18:43 WIB

Sejarah Singkat Ceng Beng Atau Ziarah Kubur

Kamis, 14 April 2022 | 15:45 WIB

Klitih dan Utopia Penegakan Hukum Pelaku Anak

Kamis, 7 April 2022 | 11:19 WIB

Menyikapi dan Mewaspadai Informasi

Minggu, 3 April 2022 | 20:56 WIB

Mencermati Perhelatan MotoGP Mandalika

Senin, 21 Maret 2022 | 19:12 WIB

Falsafah Menulis

Selasa, 8 Maret 2022 | 12:14 WIB
X