Captionnya Cukup: Tahun Korona

- Jumat, 30 Oktober 2020 | 14:19 WIB
Uli Nikmah, Mahasiswa PAI STAINU Temanggung. (dok)
Uli Nikmah, Mahasiswa PAI STAINU Temanggung. (dok)

AYOSEMARANG.COM -- Korona. Siapa yang tidak tau dengan Korona? hampir semua orang di dunia ini tahu tentangnya. Mulai anak kecil hingga orang tua yang tak pernah aktif media, mereka bisa tahu apa itu Korona. Ya, inilah virus yang ditakuti dan mengkhawatirkan banyak orang. 
\nVirus yang berasal dari Wuhan Tiongkok yang hadir di bulan Desember dan menyebar ke berbagai Negara pada bulan Januari. Di Indonesia virus ini hadir pada bulan Maret, virus ini menyerang saluran pernafasan seperti flu dan kini virus ini dikatakan sebagai virus yang mematikan. Lantas apa dampak dari adanya virus ini?

Tahun Korona membuat semua jadi terlena. Mengapa begitu? Sebab, masyarakat harus lebih bekerja keras untuk mempertahankan hidupnya. Namun, tidak hanya masyarakat umum saja yang terkena dampak virus ini, akan tetapi juga berpengaruh pada pelajar atau mahasiswa yang pembelajarannya harus melalui penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). 

Pelajar ataupun mahasiswa yang kurang fasilitas untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh ini membuat mereka sedikit patah semangat akibat adanya perbedaan terhadap teman-teman yang lainnya. Misalkan saja, ada yang tidak mempunyai alat komunikasi layaknya handphone dan ada yang mempunyai handphone tetapi tidak ada akses internet. Hal tersebut menjadi hambatan untuk semua proses kegiatan pembelajaran. Pada situasi yang tidak diharapkan sedikitpun ini, menjadi seperti kehidupan permanen yang harus dijalani, dan membuat tragis serta miris karena dengan keadaan ekonomi yang berbeda. Semua orang harus bertaruh nyawa. Para tenaga medis pun siang malam tak cepat menyerah untuk terus berusaha menyembuhkan masyarakat dari virus ini.

AYO BACA : Mahasiswa Unnes Ajak Anak-anak Ngablak Indah Semarang Upacara HUT ke-75 RI

Tidak ada orang yang enjoy dengan hadirnya virus ini. Semua kena dampak akan kehadiran virus tersebut. Anak sekolah hingga mahasiswa yang sedang berproses di dunia pendidikan pun terganggu. Mereka harus menjalani proses pembelajaran jarak jauh. Itu pun bukan hal mudah bagi mereka, dikarenakan mereka harus mempunyai akses internet untuk mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh tersebut. Lebih mirisnya lagi ketika masa kelulusan. Wisuda tiada, waktu perpisahan dengan teman-teman dan guru atau pun dosen yang ditunggu-tunggu anak sekolah hingga mahasiswa ketika hendak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi terhambat. Waktu yang bisa meluapkan banyak kenangan tetapi mereka tak bisa melaksanakan kemenangan bersama teman-teman. Ya, waktu inilah disebut Tahun Korona. Anak sekolah hingga mahasiswa banyak yang membuat status dengan caption “Tahun Korona”, tahun dimana mereka tak sebahagia di tahun sebelumnya.

Wisuda hanya terlaksana secara virtual. Wisuda yang memberi kesan tak memuaskan bagi para wisuda. Ketika masa pandemi, tak ada orang yang berani berkerumunan karena masa itu adalah masa dimana pengawasan sangatlah ketat. Mungkin sebelum pandemi, ketika wabah virus ini belum menyebar luas anak sekolah hingga mahasiswa masih bisa melakukan wisuda. Akan tetapi setelah wabah virus ini menyebar secara luas semua kegiatan yang mengundang kerumunan ditunda. Jika kegiatan itu tetap mau dilaksanakan hanya bisa dihadiri beberapa orang saja itupun harus mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Hal ini bertujuan untuk menghambat penyebaran virus ini.

Belum juga aturan Pemerintah yang mewajibkan memakai masker tentu tidak semua nyawa tegak jalan dengan aturan ini. Ada yang menerima dengan baik, menjalankannya dan memang sudah seharusnya. Tapi, tak sedikit juga yang masa bodoh dengan aturan ini. Beragam pula alasan mereka. Ada yang tidak suka, tidak peduli akan virus Korona, bahkan ada yang mengatakan bahwa hidup dan mati hanya Allah yang menentukan bukan virus Korona. Hal itu yang selalu membuat Pemerintah naik pital. Sah-sah saja berpendapat seperti di atas, tapi bukankah mencegah lebih baik dari pada mengobati?

AYO BACA : Cegah Penularan COVID-19, Mahasiswa KKN RDR ke-75 UIN Walisongo Semarang Bagikan Masker Gratis

Tahun Korona. Tahun yang dianggap menyakitkan bagi mereka yang tak mau mengambil hikmah dari beberapa kejadian yang sudah terjadi akan dampak dari virus ini. Mereka yang tak mau bergerak karena keterbatasan, mereka yang tak mau berkarya meski dirumah saja dan mereka yang merasa terbebani dengan peristiwa tahun ini yang begitu berat. Tak tahu harus melangkah, yang dapat dilakukan hanya saja tetap patuh tatanan Pemerintah untuk tetap dirumah saja tanpa melakukan hal yang lebih produktif.

Halaman:

Editor: Abdul Arif

Tags

Terkini

Mudik, Thomas Cup, dan Sea Games

Senin, 16 Mei 2022 | 19:23 WIB

Kebijakan Cukai Minuman Berpemanis di Indonesia

Senin, 25 April 2022 | 19:43 WIB

Efisienkah Tilang Elektronik di Kota Solo?

Senin, 25 April 2022 | 19:30 WIB

Menyoal Kenaikan Harga Pertamax

Senin, 25 April 2022 | 13:59 WIB

PPN Naik Menjadi 11%, Tepatkah Kebijakan Ini?

Senin, 25 April 2022 | 12:43 WIB

Kripto Untuk Siapa?

Senin, 18 April 2022 | 11:26 WIB

Belajar Tanpa (Merasa) Digurui

Senin, 18 April 2022 | 11:05 WIB

Efektivitas Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Minggu, 17 April 2022 | 18:54 WIB

Tentang Daftar Pustaka

Minggu, 17 April 2022 | 18:43 WIB

Sejarah Singkat Ceng Beng Atau Ziarah Kubur

Kamis, 14 April 2022 | 15:45 WIB

Klitih dan Utopia Penegakan Hukum Pelaku Anak

Kamis, 7 April 2022 | 11:19 WIB

Menyikapi dan Mewaspadai Informasi

Minggu, 3 April 2022 | 20:56 WIB

Mencermati Perhelatan MotoGP Mandalika

Senin, 21 Maret 2022 | 19:12 WIB

Falsafah Menulis

Selasa, 8 Maret 2022 | 12:14 WIB
X