(POKOKMEN PSIS) Yusuf Sutan Mudo Part 1, Eks Wonderkid PSIS Langganan Timnas, Teman Satu Kamar Boaz Solossa

- Rabu, 1 Desember 2021 | 16:21 WIB
Yusuf Sutan Mudo saat masih berseragam PSIS Semarang. Yusuf adalah wonderkid yang pernah dimiliki PSIS dan jadi langganan Timnas Indonesia.  (dok pribadi Yusuf Sutan Mudo )
Yusuf Sutan Mudo saat masih berseragam PSIS Semarang. Yusuf adalah wonderkid yang pernah dimiliki PSIS dan jadi langganan Timnas Indonesia. (dok pribadi Yusuf Sutan Mudo )
 
SEMARANGBARAT, AYOSEMARANG.COM -- Bicara soal wonderkid dari PSIS Semarang, tim yang berjuluk Mahesa Jenar ini punya produk yang melimpah, salah satunya adalah Yusuf Sutan Mudo.
 
Yusuf Sutan Mudo muncul pada medio 2003, kariernnya berawal dari keikutsertaannya di tim PSIS Yunior di ajang Piala Suratin pada 2002.
 
Awal muncul di PSIS Semarang, Yusuf muncul bersama Deni Rumba, Dedean Surdane, Ahmad Zaini dan Rifki Arahman. Masuk ke tim senior, usianya masih 19 tahun.
 
"Tahun 2003 itu awalnya magang tapi kok ternyata didaftarkan kompetisi. Soalnya waktu itu regulasinya tidak ada magang," ucap Yusuf saat ditemui pada Selasa 30 November 2021.
 
 
Yusuf Sutan Mudo adalah pemain yang biasa menempati posisi sayap kanan. Posisi itu selalu dia jalani di tim mana pun.
 
Belum lama membela PSIS senior, Yusuf yang kala itu masih juga di PSIS Yunior diminta seleksi untuk Timnas U-20 bersama satu timnya.
 
Dari seleksi itu, yang lolos selain Yusuf, dari Semarang ada Deni Rumba dan Prananda Aditya.
 
Yusuf kemudian melakoni program latihan bersama Timnas U-20 di Jakarta selama satu tahun untuk Piala Asia.
Yusuf Sutan Mudo (belakang dua dari kanan) saat membela Timnas Indonesia U-20 di Vietnam 2004. (dok pribadi Yusuf Sutan Mudo)
 
"Tapi waktu kualifikasi tidak lolos. Kami satu grup sama Iran, Tiongkok, dan Qatar. Lawannya berat-berat," terangnya.
 
Setelah tidak lolos itu, skuad Timnas U-20 tidak ingin dilepas begitu saja dan diminta untuk memperkuat Persiba Bantul di tahun 2004.
 
 
Setahun setelahnya Yusuf kembali ke PSIS Semarang di tahun 2005. Menyandang predikat jebolan pemain Timnas Indonesia tak membuatnya jadi pilihan utama di skuad Mahesa Jenar yang kala itu dilatih oleh Bambang Nurdiansyah.
 
Bahkan sampai tahun 2007 Yusuf di PSIS, dia tidak juga mendapatkan skuad inti.
 
"Maklum waktu itu saingan di PSIS Semarang cukup berat, saingan saya M Ridwan," ucapnya sambil mengingat-ingat masa lalu.
 
Meskipun Yusuf di PSIS tidak selalu pilihan utama, namun dia bolak-balik Timnas. Pada tahun 2006, Yusuf sempat kembali ke Timnas U-23 untuk bersiap menghadapi Asian Games. 
 
Dalam persiapan itu, Yusuf menjalani TC di Belanda. Di Timnas ini dia satu tim bersama nama-nama seperti Ahmad Bustomi, Wahyu Wijiastanto dan Jajang Mulyana.
 
 
Di Belanda ini pula dia ditangani pelatih Timnas Indonesia yang di tahun depannya membesut Timnas Senior yakni Peter White.
 
Di Belanda ini musibah menyambangi Yusuf. Ketika menjalani latihan dia cedera lutut.
 
"Ya itu saya cedera lutut akibat salah tumpuan, bukan karena benturan," kata pria yang kini berusia 36 tahun itu.
 
Singkat cerita di Asian Games ini juga gagal dan lanjut menghadapi Pra-Olimpiade. 
 
Dalam event Pra-Olimpiade ini Yusuf mendapat pengalaman menarik. Dia satu kamar dengan salah seorang calon bintang dari tanah Papua, Boaz Salossa.
 
Boaz waktu itu tentu saja masih layaknya remaja dari Papua yang polos dan pendiam. Dia baru bergabung dalam persiapan Pra-Olimpiade ini. 
 
Namun sebagaimana permainannya bertahun-tahun kelak, kemampuannya saat itu sudah tampak spektakuler.
 
"Olah bolanya bagus, larinya kencang dan sulit dihadang. Tapi badannya masih kecil. Mungkin itu tadi alasannya waktu dipanggil di Timnas kakinya patah. Pergerakannya memang sulit diantisipasi," terang Yusuf.
 
Tidak Sesuai Rencana
 
Pra-Olimpiade yang dijalani Yusuf tidak sesuai rencana dan harus gugur di tahap awal. 
 
Alhasil Yusuf pada 2007 melanjutkan karier di Persita Tangerang sampai 2008 saat sistem Liga Indonesia berubah menjadi Indonesia Super League (ISL).
 
Di Persita ini, nasib malang kembali menghampiri dirinya. Ketika latihan dia tabrakan bersama rekan satu timnya I Made Wirahadi dan lutut kirinya kembali cedera.
 
"Yang lutut kiri tidak saya operasi. Saya sembuhkan secara terapi mandiri soalnya sakit," kata pemain yang identik dengan nomor 2 ini.
 
Setelah itu permainan Yusuf sudah berbeda dan meredup. Karier yang dia jalani tidak seenergik masa muda.
 
Pada 2009 dia melenggang ke Persekaba Blora, lalu 2010 sempat trial di Semarang United meskipun dicoret saat liga belum dimulai.
 
Sempat menganggur hampir setahun, di tahun 2011 dia sempat bermain kembali di Persitema Temanggung dan pada 2012 dia memutuskan untuk pensiun.
 
"Akhirnya saya pensiun di tahun itu karena merasa capek. Lutut saya juga kambuh-kambuhan. Itu saya pensiun di usia 27. Usia yang belum terlalu tua memang. Tapi mau bagaimana lagi kondisi saya tidak mendukung," ucapnya.
 
Selepas pensiun, Yusuf mencoba menjadi pelatih sebuah Akademi Zaifa di Kabupaten Demak. Lalu di D'Rumba Football Academy.
 
 
Saat ini Yusuf sibuk mengelola The Arena Minisoccer. Sebuah lapangan sepak bola mini yang pemainnya hanya diisi 7 orang per tim di Manyaran.
 
Meskipun kariernya selama bermain tidak bagus-bagus amat, tetapi Yusuf bersyukur. Setidaknya dia pernah merasakan sebagai pemain Timnas dan sudah berada di tim mana pun.
 
"Cedera sudah musibah, tidak perlu terlalu diratapi. Setidaknya pernah main untuk Timnas. Tidak semua orang bisa main di Timnas," ungkap pria satu anak ini. ***
 

Editor: Budi Cahyono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

PREDIKSI Susunan Pemain PSIS Semarang vs Arema FC

Minggu, 16 Januari 2022 | 19:52 WIB

Ini Alasan Manajemen PSIS Semarang Coret Bruno Silva

Kamis, 13 Januari 2022 | 19:51 WIB
X