Usulkan Bilik Bercinta bagi Narapidana, Yosep Parera Kirim Surat ke Presiden

- Jumat, 10 Juni 2022 | 19:30 WIB
Pendiri Rumah Pancasila dan Praktisi hukum Yosep Parera  (tengah) bersama tim. (arri widiarto/ayosemarang.com)
Pendiri Rumah Pancasila dan Praktisi hukum Yosep Parera (tengah) bersama tim. (arri widiarto/ayosemarang.com)


SEMARANG, AYOSEMARANG.COM - Pendiri Rumah Pancasila dan Praktisi hukum Yosep Parera meminta kepada pemerintah untuk menyediakan bilik bercinta bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP). Usulannya adalah dengan membuat kebijakan berupa aturan pelaksana yang berorientasi pada Conjugal visit. Conjugal Visit adalah kunjungan intim legal secara periodik yang menjadi hak seorang narapidana dengan pasangan resminya.  Terkait usulan tersebut Yosep Parera dan tim telah mengirimkan surat ke Presiden dengan tembusan ke DPR, Kemenkumham dan Lembaga Pemasyarakatan.


''Kunjungan ini harus dilakukan di ruangan yang tertutup dengan fasilitas sesuai tujuan dan maksud kunjungan intim. Guna merealisasikan kebijakan Conjugal Visit tersebut, maka dibutuhkan adanya Conjugal Room atau Bilik Bercinta yang disediakan oleh Lembaga Pemasyarakatan guna memenuhi kebutuhan dasar warga binaan di Indonesia,'' jelas Yosep Parera di kantornya Jl Semarang Indah, Kota Semarang, Jumat 10 Juni 2021.

Baca Juga: Sergio Alexandre Bakal Dampingi PSIS Semarang di Piala Presiden 2022

Menurut Yosep yang juga advokat di Semarang ini, penting bagi negara untuk menjamin pemenuhan kebutuhan seksual bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia, Ia berpendapar, secara harfiah, setiap manusia dilahirkan dengan kebutuhan fisiologik yaitu kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya secara fisik seperti makan, minum termaksud kebutuhan seks.

Maka, kata dia, apabila kebutuhan fisiologik berupa seks tidak dapat terpenuhi di dalam Lembaga Pemasyarakatan, warga binaan tidak akan mampu untuk hidup menjadi manusia secara utuh. Bahkan sangat mungkin timbul penyimpangan-penyimpangan seksual didalam Lembaga Pemasyarakatan yang akan menjadi permasalahan baru bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan.

''Lebih buruknya, permasalahan ini akan membuat para warga binaan sulit atau tidak bisa diterima kembali ke masyarakat. Dimana hal tersebut justru tidak sejalan dengan tujuan pemasyarakatan sebagaimana Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan yang menyatakan bahwa 'Sistem pemasyarakatan diselenggarakan dalam rangka membentuk Warga Binaan Pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.'

“Sistem pemasyarakatan berfungsi menyiapkan Warga Binaan Pemasyrakatan agar dapat berintegrasi secara sehat dengan masyarakat, sehingga dapat berperan kembali sebagai anggota masyarakat yang bebas dan bertanggung jawab.”

Baca Juga: Kebakaran di Pasar Peterongan, Percikan Api Melahap Sebuah Rumah
Yosep memaparkan urgensi perlu adanya kebijakan Conjugal Visit pada Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia guna pemenuhan kebutuhan seksual bagi warga binaan, didasari juga atas komitmen Negara-Negara di Dunia yang juga telah menerapkan kebijakan Conjugal Visit bagi warga binaan sebagai bentuk penghormatan hak-hak dasar Warga Binaan. Negara-negara yang telah menerapkan Conjugal Visit pada lembaga pemasyarakatan adalah Spanyol, Kanada, Arab Saudi dan India.

Pihaknya mengkhawatirkan hasrat seksual yang dibelenggu atau tidak dapat disalurkan oleh warga binaan akan berdampak pada penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di Lembaga Pemasyarakataan seperti hubungan sesama jenis, bisnis prostitusi didalam Lembaga Pemasyarakatan, pungutan liar yang terjadi didalam Lembaga Pemasyarakatan, serta penyakit seksual.***

 

Halaman:

Editor: arri widiarto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X