Keanekaragaman Hayati Perkuat Ketahanan Pangan

- Jumat, 19 Agustus 2022 | 17:46 WIB
Diskusi virtual bertajuk “Tantangan  Ketahanan Pangan” yang digelar Forum Merdeka Barat (FMB9) di Jakarta, Jumat 19 Agustus 2022. (Dok FMB)
Diskusi virtual bertajuk “Tantangan Ketahanan Pangan” yang digelar Forum Merdeka Barat (FMB9) di Jakarta, Jumat 19 Agustus 2022. (Dok FMB)

JAKARTA, AYOSEMARANG.COM - Pemerintah harus memanfaatkan keanakeragaman hayati di Indonesia untuk membuat ketahanan pangan kita tidak pernah goyah. Sebab, ketahanan pangan tidak hanya berasal dari beras, tetapi bisa dari berbagai jenis pangan lokal yang ada.

Diversifikasi pangan akan membuat ketahanan pangan kita lebih adaptif ke depannya, sehingga lebih tahan menghadapi krisis.

“Banyak keanekaragaman hayati di Indonesia, kita bisa ambil keuntungan dari iklim tropis, lalu struktur kepulauan juga. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah harus melihat kondisi itu,” ungkap Ketua Umum Pakar DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Agus Pakpahan dalam diskusi virtual bertajuk “Tantangan Ketahanan Pangan” yang digelar Forum Merdeka Barat (FMB9) di Jakarta, Jumat 19 Agustus 2022.

Baca Juga: Profil dan Agama Putri Candrawathi Istri Ferdy Sambo, Tersangka Baru Kasus Pembunuhan Brigadir J

Ia mengatakan bahwa negara Indonesia disatukan oleh ideologi Pancasila, meski
berbeda beda tetapi tetap satu, demikianpun dalam hal pengembangan pangan
di tanah air, harus disesuaikan dengan kondisi di setiap daerah. “Sagu misalnya bisa dikembangkan di Papua, karena itu tidak perlu ada konversi lahan di sana, begitu juga yang dilakukan di Kalimantan dan daerah lainnya, sesuai dengan potensi di sana,”terang Agus.


Agus menambahkan bahwa kita perlu belajar dari yang telah dilakukan Jepang. Negara tersebut menggunakan pendekatan fungsionalitas dalam membangun
ketahanan pangannya, bukan pendekatan komoditas, sementara kita masih
menggunakan pendekatan komoditas.
Pendekatan fungsionalitas itu bukan fokus pada beras, jagung dan lain lain, tetapi kita masuk misalnya ke protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.

Dengan arti kita gunakan cara pandang keanekaragaman hayati sebagai sumber
daya utama. Supaya Indonesia bisa lebih fleksibel, bisa lebih adaptif dengan masa depan karena sesuai dengan iklim tropika, dengan keanekaragaman hayatnya.

“Misalnya sukun, talas, sagu kita bisa jadikan tepung yang sama sama ada juga karbohidratnya,” ucapnya.

Baca Juga: 9 Potret Cantik Awet Muda Putri Candrawathi, Istri Redy Sambo Resmi Jadi Tersangka Baru Pembunuhan Brigadir J
Ia mengatakan, kita boleh saja swasembada beras saat ini tetapi faktanya kita masih banyak impor buah buahan, begitu juga sayur sayuran, kita masih impor protein, mineral.
Dari Global Hunger Indeks kita masih tertinggal 50 tahun dari negara maju, karenanya ia pun mendorong agar Indonesia fokus pada peningkatan kapasitas pertanian untuk jangka panjang, inovasi teknologi pertanian itu harus terus dilakukan, seperti yang dilakukan Jepang.

Halaman:

Editor: arri widiarto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Harga Tiket Konser Neck Deep di Yogyakarta November 2022

Kamis, 29 September 2022 | 11:29 WIB
X