Wedang Ronde, Budaya Kuliner Tionghoa di Nusantara

- Selasa, 28 Desember 2021 | 13:46 WIB
Wedang ronde.  (Badiatul Muchlisin Asti/ayobandung)
Wedang ronde. (Badiatul Muchlisin Asti/ayobandung)


Ukuran ronde bisa kecil atau besar dan bisa diberi isian di dalamnya, yang diantaranya gula, wijen, bunga osmanthus, pasta kacang manis, manisan kulit jeruk, daging giling, dan sayuran. Masyarakat tionghoa biasa mengkonsumsi ronde saat festival lampion (yuanxiao) atau festival dongzhi, perkumpulan keluarga, dan pesta pernikahan.

Sembahyang Kue Onde jatuh pada bulan ke-10 atau ke-11 China, tergantung pada perhitungan empat tahun sekali. Sedangkan untuk perhitungan di tahun masehi, jatuh pada tanggal 22 Desember yang bertepatan dengan Hari Ibu atau tiga hari jelang perayaan natal bagi umat kristiani.

Pemerhati Budaya Tionghoa nusantara, Ocdy Susanto mengemukakan, bentuk ronde yang bulat yang disajikan dalam mangkuk yang bundar, bagi masyarakat China daratan maupun perantauan adalah melambangkan kebersamaan keluarga.

Baca Juga: Tips Menghindari Aksi Klitih di Jogja, Jangan Sampai Ada Korban Lagi

“Untuk sejarah dimulainya sembahyang kue onde, baru dimulai di tiongkok pada saat pemerintahan Kaisar Song Kho Cong (1127-1152 M). Sembahyang onde ini ditujukan kepada Dewa Toapekong, arwah leluhur, dan kepada lima unsur alam (air, api, tanah, logam, dan kayu),” terangnya.

Lanjutnya, selesai bersembahyang orang saling mengantar kue onde ke rumah tetangga atau famili, terutama bagi yang tidak membuatnya. Ada lagi tradisi orang Tionghoa, anak-anak yang diberi kue onde jumlahnya disesuaikan dengan usianya. Contoh, anak usia 3 tahun maka ia akan dapatkan 3 kue onde, sedangkan yang usianya 10 tahun maka ia akan dapat 10 buah.

Satu lagi tradisi yang unik di kalangan Tionghoa saat merayakan sembahyang onde, jika di rumah mereka ada salah satu keluarga yang sedang hamil, setelah mengentas kue onde yang dijemur kemudian onde ditusuk dengan lidi dan dibakar untuk mengetahui jenis kelamin bayi yang sedang dikandung.

“Jika kue onde mentah itu merekah maka dipercaya bayi itu perempuan, sebaliknya jika onde itu menonjol keluar maka bayi laki-laki,” sambungnya.

Perkembangan Ronde di Indonesia

Bagi masyarakat pribumi Indonesia, ronde umumnya dikonsumsi sebagai wedang ronde. Untuk satu porsi wedang ronde sendiri isinya meliputi beberapa bulatan ronde yang berisi kacang manis tumbuk, taburan kacang tanah goreng, potongan roti, kolang-kaling, ubi, wijen hitam, dan tentunya disajikan dengan air jahe panas, kuah dari gula aren, bahkan ada juga yang dicampur dengan sirup.

Halaman:

Editor: arri widiarto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pemilik Frequensi dan Pelengkap Penderita

Sabtu, 30 Juli 2022 | 14:38 WIB

Di Balik Ego dan Kolektivitas Etnis

Kamis, 7 Juli 2022 | 11:08 WIB

Mudik, Thomas Cup, dan Sea Games

Senin, 16 Mei 2022 | 19:23 WIB

Kebijakan Cukai Minuman Berpemanis di Indonesia

Senin, 25 April 2022 | 19:43 WIB

Efisienkah Tilang Elektronik di Kota Solo?

Senin, 25 April 2022 | 19:30 WIB

Menyoal Kenaikan Harga Pertamax

Senin, 25 April 2022 | 13:59 WIB

PPN Naik Menjadi 11%, Tepatkah Kebijakan Ini?

Senin, 25 April 2022 | 12:43 WIB

Kripto Untuk Siapa?

Senin, 18 April 2022 | 11:26 WIB
X