Kripto Untuk Siapa?

- Senin, 18 April 2022 | 11:26 WIB
Daniel Ardra Simon, Praktisi Kripto tinggal di Surakarta. (dok pribadi.)
Daniel Ardra Simon, Praktisi Kripto tinggal di Surakarta. (dok pribadi.)

AYOSEMARANG.COM - Cryptocurrency atau mata uang kripto adalah sebuah mata uang dan juga aset digital yang menggunakan teknologi blockhain yang desentral. Di Indonesia kripto bukanlah alat pembayaran yang sah, Otoritas Jasa Keuangan juga melarang lembaga keuangan memfasilitasi kripto.

Untuk regulasinya kripto sebagai aset diatur oleh Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) dibawah Kementerian Perdagangan. Namun begitu kripto dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 0.11% dan Pajak Penghasilan atau PPh senilai 0.1% dari nilai transaksi.

Baca Juga: VIRAL Pengunjung Diduga Pukul Petugas Parkir Jogja City Mall Gegara Ini

Hal ini tentu cukup membingungkan dikarenakan Indonesia belum memiliki kerangka regulasi yang komprehensif mengenai kripto, sehingga Indonesia seperti tidak mendorong namun juga tidak melarang, yang menyebabkan adanya kecenderungan kepada ketidakpastian dalam kepemilikan serta transaksi aset yang saat ini telah dimiliki oleh 12.4 juta orang di Indonesia. Bahkan lebih besar daripada jumlah investor di Bursa Efek Indonesia.

Perkembangan aset kripto yang saat ini bernilai US$2 triliun, juga berkaitan dengan Web 3.0, NFT, dan dapat membuka potensi ke New economy haruslah disikapi oleh pemerintah secara cepat karena jika pemerintah terlambat dalam menentukan arah kebijakan yang jelas maka Indonesia dapat tertinggal dalam perkembangan aset ini.

Baca Juga: 6 Game yang Terinspirasi dari Mitologi Jepang, Asyik untuk Dimainkan

Saat ini sudah mulai ada banyak negara yang mulai mengatur kripto seperi Amerika Serikat, Australia, El Salvador, Inggris, Jepang, Meksiko, Swiss, Thailand, Uni Eropa, dll. Kripto dapat mendorong adanya pemasukan negara dalam hal pajak dan devisa, dikarenakan transaksi kripto yang lebih liquid, cepat, dan murah daripada jasa keuangan konvensional.

Kripto juga dapat mendorong pentas Indonesia dalam kancah internasional karena potensi ekonomi yang terdapat dalam utilisasi kripto sangatlah besar dan mempunyai potensi yang sangat tinggi. Selain kerangka regulasi baik bagi kripto itu sendiri, pemilik kripto, tambang kripto, dan bursa kripto, hal lain yang juga penting adalah adanya edukasi kepada masyarakat luas mengenai aset kripto baik oleh pemerintah ataupun swasta agar perkembangan kripto yang signifikan juga diikuti oleh adanya kecerdasan finansial, terlebih karena terdapat lebih dari 18.000 aset kripto yang beredar namun tidak semuanya memiliki utilisasi yang jelas dan masih tergolong aset yang volatile dan beresiko.***

Penulis: Daniel Ardra Simon, Praktisi Kripto tinggal di Surakarta.

Halaman:

Editor: arri widiarto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Lomba Justifikasi

Kamis, 15 September 2022 | 07:46 WIB

Pemilik Frequensi dan Pelengkap Penderita

Sabtu, 30 Juli 2022 | 14:38 WIB

Di Balik Ego dan Kolektivitas Etnis

Kamis, 7 Juli 2022 | 11:08 WIB

Mudik, Thomas Cup, dan Sea Games

Senin, 16 Mei 2022 | 19:23 WIB

Kebijakan Cukai Minuman Berpemanis di Indonesia

Senin, 25 April 2022 | 19:43 WIB

Efisienkah Tilang Elektronik di Kota Solo?

Senin, 25 April 2022 | 19:30 WIB

Menyoal Kenaikan Harga Pertamax

Senin, 25 April 2022 | 13:59 WIB

PPN Naik Menjadi 11%, Tepatkah Kebijakan Ini?

Senin, 25 April 2022 | 12:43 WIB

Kripto Untuk Siapa?

Senin, 18 April 2022 | 11:26 WIB
X