(POKOKMEN PSIS) Cerita Elang Sumambar Part 1: Dokter Kawakan Mahesa Jenar, Pernah Jahit Kepala Suporter

- Rabu, 15 Desember 2021 | 18:01 WIB
Dokter Elang Sumambar saat ditemui di kliniknya, Senin 13 Desember 2021. Dokter Elang menjadi dokter tim PSIS sejak 1995-2013.  (Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)
Dokter Elang Sumambar saat ditemui di kliniknya, Senin 13 Desember 2021. Dokter Elang menjadi dokter tim PSIS sejak 1995-2013. (Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)



SEMARANGSELATAN, AYOSEMARANG.COM - Sebelum ada Alfan Nur Asyhar, PSIS Semarang pernah punya dokter tim yang tidak pernah diganti dari masa ke masa, yakni Elang Sumambar.

Elang Sumambar di PSIS Semarang dari tahun 1995 sampai terakhir tahun 2013.

Dokter Elang Sumambar yang saat ini berusia 57 tahun mengaku jika awalnya dia adalah pemain bola.

"Saya dulu memang main bola dulu di PSIS Yunior, satu tim dengan Ahmad Muhariah," ucap Elang saat ditemu Senin 13 Desember 2021 di ruang praktiknya, Kimia Farma Jalan Dokter Soetomo 3.

Baca Juga: Laura Anna Meninggal, Bagaimana Kelanjutan Proses Hukum Gaga Muhammad?

Namun karier Elang sebagai pemain bola tidak dilanjutkan karena dia harus kuliah di jurusan kedokteran Undip.

Meski demikian, Elang tidak bisa begitu saja meninggalkan sepak bola. Bahkan dari sepak bola dia bisa mendapat beasiswa untuk menuntut ilmu kedokteran.

Elang dengan PSIS tampaknya memang begitu jodoh. Pada tahun 1995 secara tak terduga Elang ditawari jadi dokter tim oleh eks Pelatih PSIS Semarang Cornelis Soetadi.

"Saya langsung mau. Karena saya punya passion sepak bola," ujarnya.

Baca Juga: Rizky Nazar Tersangka Kasus Narkoba, Ini Penampilan Terbarunya

Saat ditunjuk jadi Dokter Tim, Elang mengaku juga harus banyak belajar lagi. Pasalnya, basic ilmu yang dipelajari Elang adalah dokter umum.

"Tapi karena pernah jadi pemain juga, itu semua tidak lama. Saya sudah paham secara psikologis dan jenis cederanya. Tinggal saya memperdalam," terang pria yang lahir pada 29 Mei 1964 ini.

Selama menjadi dokter tim di PSIS Semarang selama bertahun-tahun lamanya itu, tentu saja Elang sudah mengalami berbagai pahit-manis di klub berjuluk Laskar Mahesa Jenar ini.

Elang bahkan harus meninggalkan waktu untuk prakteknya apabila ada pertandingan ke luar kota.

Terlebih lagi bagaimana finansial PSIS yang selalu naik-turun dari tahun ke tahun, hal ini juga mempengaruhi berbagai proses medis.

"Tapi memang saya sudah memahami itu semua. Medis tim sekarang sama dulu sebetulnya sama, namun tergantung pada pendanaan. Di sini saya tidak melihat karier atau upah. Tetapi saya bangga bisa jadi bagian PSIS Semarang," kata pria dua anak ini.

Berbagai pengalaman dari perjalanan PSIS Semarang juga sudah pernah dirasakan oleh Elang.

Baca Juga: Laura Meninggal, Reza Arap Berjanji Wujudkan Proyeknya Bersama Anna yang Tertunda

Elang mengungkapkan pengalamannya di PSIS Semarang tidak hanya terjadi antara dia dengan tim, melainkan juga dengan suporter.

Satu yang paling dia ingat adalah ketika kerusuhan antara suporter PSIS Semarang dan Persijap Jepara di Stadion Kamal Junaidi pada 2006.

"Waktu itu suporter PSIS Semarang terkepung. Dilempari kanan-kiri. Saya ingat pertandingan masih berjalan saya masuk ke lapangan. Saya nggak peduli karena situasi tampak sudah chaos," ujar Elang yang saat ini juga menjabat sebagai ketua IDI Kota Semarang.

Elang masuk lapangan bukan untuk mengobati pemain atau ada panggilan medis, namun untuk membantu suporter lari PSIS Semarang.

Baca Juga: Dua Anggota Polres Pati Dapat Sanksi PTDH atas Kasus Perselingkuhan, Keduanya Ajukan Banding ke Mabes Polri

"Saya bilang ke mereka untuk meruntuhkan dinding pembatas. Akhirnya mereka bisa menjebol pembatas itu dan masuk ke lapangan," paparnya.

Selain itu ada insiden lagi yang mengharuskan Dokter Elang berurusan dengan suporter, yakni saat terjadi kerusuhan di Stadion Manahan pada tahun 2000 di pertandingan antara Pelita Solo dan PSIS Semarang.

Kisah ini tampaknya sudah banyak ditulis oleh banyak orang. Kala itu, Manahan membeludak. Stadion yang seharusnya berkapasitas 20.000 kali ini diisi oleh 50.000 orang.

PSIS Semarang di tahun ingin lolos zona degradasi, sementara Pelita Solo, ingin mengamankan tiket lolos babak delapan besar.

Baca Juga: Laura Anna Meninggal, Ini Ragam Komplikasi Cedera Tulang Belakang

Kerasnya pertandingan berimbas ke atmosfer suporter sampai membuat ricuh. Suporter saling melempar dan karena kalah jumlah, suporter PSIS Semarang yang kala itu belum bernama Panser Biru banyak yang mengalami luka-luka.

"Ada yang bocor kepalanya. Karena butuh penanganan saya jahit di situ juga. Situasinya masih mencekam dan nggak ada air. Jadi saya menjahit dengan tangan berlumuran darah karena nggak ada air untuk menyiram," ungkapnya.


Meskipun selesai dengan PSIS Semarang, Elang Sumambar kini tetap tidak bisa jauh-jauh dari dunia olahraga.
Saat ini Elang masih menjabat sebagai Dokter Penanggungjawab di PPLP Jawa Tengah.***

Editor: Budi Cahyono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X