Utamakan Bahasa Indonesia, Kuasai Bahasa Asing dan Lestarikan Bahasa Daerah

- Senin, 18 April 2022 | 11:15 WIB
Inawati SPd MSi, Guru SMA N 15 Semarang. (dok pribadi.)
Inawati SPd MSi, Guru SMA N 15 Semarang. (dok pribadi.)

AYOSEMARANG.COM-Penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi sangatlah penting dalam peradaban manusia di muka bumi ini. Bahasa sebagai alat komunikasi maksudnya adalah sebagai wahana interaksi sosial melalui bunyi atau tulisan. Begitu pentingnya bahasa sebagai sarana komunikasi antar anggota masyarakat dalam menyampaikan ide dan perasaan secara lisan atau tulis. Tanpa bahasa akan terasa sulit untuk melansungkan suatu kehidupaan.

Seiring dengan perkembangan zaman, bahasapun telah banyak mengalami perkembangan. Baik perkembangan yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Tak jauh berbeda dengan keberadaan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional negara kita. Dari segi penulisan, sangat jelas terdapat perkembangan menuju arah yang lebih mudah dipahami. Disisi lain, Bahasa Indonesia telah banyak ditinggalkan atau 'dimelencengkan' penggunaannya.

Saat ini hampir setiap bagian di Indonesia telah menghilangkan esensi Bahasa Indonesia sebagai kebanggaan bangsa. Keberadaan Bahasa Indonesia telah banyak yang hilang seiring semakin berkembangnya bahasa pergaulan diantara anak muda. Tak jarang bahkan bisa dibilang secara keseluruhan, anak muda lebih mengagungkan kata 'Gue' dibanding 'Saya' atau 'Aku'.

Hampir semua penayangan di televisi menggunakan kata ini yang sebenarnya identik dengan Bahasa Betawi. Tak mengherankan bila saat ini hampir di semua pulau di Indonesia lebih suka menggunakan kata 'Gue' dibanding 'Saya'. Terlebih anak muda di daerah , kata 'Gue' digunakan untuk menunjukkan bahwa mereka termasuk dalam golongan anak muda yang gaul, yang trendi dan terkesan berada di perkotaan besar dengan berbagai komunitas pergaulan yang terkenal.

Baca Juga: Belajar Tanpa (Merasa) Digurui

Padahal jika kita runtut kembali, kata 'Gue' adalah bahasa adat bagi masyarakat Betawi. Namun dikarenakan pusat pemerintahan dan pusat perekonomian negara kita terpusat di Betawi atau Jakarta, maka kata 'Gue' lebih merasuki masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Tak heran jika perfilman Indonesia yang notabene ditujukan bagi anak muda, lebih banyak menggunakan bahasa tersebut.

Contoh yang lain adalah kata baper. Baper, merupakan kata yang biasanya diarahkan pada orang yang sedang dalam fase mengunakan perasaan dalam menghadapi sesuatu hal. sesuai namanya ”bawa perasaan”. Contoh, Wawan sedang sedih lalu Anton menyela ”lagi baper yaa?”. Kata baper seharusnya digunakan seperti itu. Namun karena kekreatifan para remaja, kata ini sering diplesetkan dan digunakan sebagai “prisai” dan penganti umum kata Maaf.

Belum lagi pengaruh bahasa Inggris (salah satu bahasa asing yang sudah menjadi bahasa internasional). Kecenderungan remaja dalam kebersamaan dan pergaulan mereka; baik di dunia maya maupun di kehidupan nyata, mereka lebih sering mengucapkan kata-kata seperti, “oke bro, thanks ya”, GBU bro, singkatan dari god bless you. Di sosial media tidak jarang kita saksikan ulah remaja yang sedang jatuh cinta, kemudian mengekspresikan cintanya dengan kata, I love you.

Terkadang saya menjadi berpikir, apakah terlalu jelek keberadaan Bahasa Indonesia sehingga para remaja sepertinya malu mengungkapkan kata, “saya mencintaimu” untuk mengungkapkan perasaan cintanya kepada seseorang. Ataukah kata Bahasa Inggris I Love you kemungkinan diterima cintanya lebih besar daripada kata saya mencintaimu? Sepertinya hanya remaja sendiri yang tahu jawabannya.

Lalu dimana bahasa asli negara kita? Dengan semakin globalnya Indonesia, masyarakat juga lebih banyak menggunakan bahasa asing dan memilih untuk meninggalkan Bahasa Indonesia. Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolahpun telah mengalami penurunan. Kebanyakan sekolah, bahkan di tingkat TK telah menerapkan Bahasa Inggris sebagai bahasa untuk komunikasi utamanya.

Halaman:

Editor: arri widiarto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Lomba Justifikasi

Kamis, 15 September 2022 | 07:46 WIB

Pemilik Frequensi dan Pelengkap Penderita

Sabtu, 30 Juli 2022 | 14:38 WIB

Di Balik Ego dan Kolektivitas Etnis

Kamis, 7 Juli 2022 | 11:08 WIB

Mudik, Thomas Cup, dan Sea Games

Senin, 16 Mei 2022 | 19:23 WIB

Kebijakan Cukai Minuman Berpemanis di Indonesia

Senin, 25 April 2022 | 19:43 WIB

Efisienkah Tilang Elektronik di Kota Solo?

Senin, 25 April 2022 | 19:30 WIB

Menyoal Kenaikan Harga Pertamax

Senin, 25 April 2022 | 13:59 WIB

PPN Naik Menjadi 11%, Tepatkah Kebijakan Ini?

Senin, 25 April 2022 | 12:43 WIB

Kripto Untuk Siapa?

Senin, 18 April 2022 | 11:26 WIB
X