Menyoal Kenaikan Harga Pertamax

- Senin, 25 April 2022 | 13:59 WIB
Eka Kusuma Putri, Mahasiswi S1 Ekonomi Pembangunan UNS Surakarta. (dok pribadi.)
Eka Kusuma Putri, Mahasiswi S1 Ekonomi Pembangunan UNS Surakarta. (dok pribadi.)

 

AYOSEMARANG.COM - Dewasa ini, pemenuhan BBM sebagai sumber bahan bakar alat transportasi sudah menjadi bagian dari kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Kebijakan kenaikan Pertamax ini menyebabkan banyak perubahan dalam perekonomian, meskipun tidak secara drastis.

Namun hal ini berpengaruh signifikan terhadap demand dan supply BBM Pertamax.

Kenaikan Pertamax ini dipicu oleh naiknya harga minyak mentah dunia yang mencapai lebih dari USD $113,5 per barel yang mana angka tersebut jauh dari perkiraan APBN yaitu USD $63 per barel.

Selain itu, pemerintah juga menjelaskan bahwa Pertamax bukanlah BBM subsidi yang mana kenaikan ini tidak akan berdampak signifikan dikarenakan pengguna Pertamax didominasi dari masyarakat kalangan menengah ke atas.

Baca Juga: Daftar Lokasi Rest Area Tol Trans Jawa Mudik Lebaran 2022
Diperkirakan pengguna BBM non subsidi Pertamax di Indonesia yaitu sekitar 15%, sedangkan sisanya merupakan pengguna Pertalite dan Solar.

Di sisi lain, perang yang terjadi saat ini diantara Ukraina dan Rusia menjadi faktor geopolitik, namun alasan ini dirasa kurang tepat untuk menjadi satu-satunya faktor kenaikan BBM non subsidi Pertamax sebagaimana yang diungkapkan oleh Widhyawan, salah satu praktisi migas senior.

"Untuk transisi energi yang harusnya menjauhi fosil fuel, tapi ternyata ketergantungan fosil fuel sangat tinggi sehingga terjadi sesuatu yang kaitanya dengan harga yang sedemikian tinggi. Jadi harga tinggi itu bukan karena perang Rusia-Ukraina saja, perangnya itu menambah risiko, premium risk dari geopolitics," ungkap Widhyawan dalam bincang-bincang bersama Media dan Indonesia Petroleum Association (IPA), Selasa (19/4/2022).

Pemerintah menyebutkan bahwa lonjakan ini masih dibawah harga keekonomiannya. Sesuai dengan KepMen ESDM No. 62 Tahun 2020 perhitungan dengan menggunakan rata-rata MOPS/Argus 3 bulan terakhir, harga akhir Peramax seharusnya berkisar pada 15.292 per liter (termasuk PPN dan PBBKB), namun pemerintah hanya menetapkan harga Pertamax pada angka 12.500 per liternya.

Pemerintah menghimbau kepada masyarakat untuk tetap mempertimbangkan kemampuan daya beli dan tidak beralih dari Pertamax ke Pertalite. Selain untuk menghindari ketidakseimbangan demand dan supply yang menyebabkan kelangkaan, juga untuk membantu Pertamina memulihkan kembali keuangan perusahaan akibat tekanan dari besarnya subsidi yang harus ditanggung untuk BBM penugasan, seperti Premium dan Pertalite.

Halaman:

Editor: arri widiarto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Lomba Justifikasi

Kamis, 15 September 2022 | 07:46 WIB

Pemilik Frequensi dan Pelengkap Penderita

Sabtu, 30 Juli 2022 | 14:38 WIB

Di Balik Ego dan Kolektivitas Etnis

Kamis, 7 Juli 2022 | 11:08 WIB

Mudik, Thomas Cup, dan Sea Games

Senin, 16 Mei 2022 | 19:23 WIB

Kebijakan Cukai Minuman Berpemanis di Indonesia

Senin, 25 April 2022 | 19:43 WIB

Efisienkah Tilang Elektronik di Kota Solo?

Senin, 25 April 2022 | 19:30 WIB

Menyoal Kenaikan Harga Pertamax

Senin, 25 April 2022 | 13:59 WIB

PPN Naik Menjadi 11%, Tepatkah Kebijakan Ini?

Senin, 25 April 2022 | 12:43 WIB

Kripto Untuk Siapa?

Senin, 18 April 2022 | 11:26 WIB
X