Mampukah Indonesia Membangkitkan Kembali Kejayaan Swasembada Pangannya di Tengah Krisis Pangan Global?

- Selasa, 24 Mei 2022 | 16:30 WIB
Devika Dyah Kusumawati, mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan, Universitas Sebelas Maret Surakarta. (dok pribadi)
Devika Dyah Kusumawati, mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan, Universitas Sebelas Maret Surakarta. (dok pribadi)

Baca Juga: Besek Bekas Jadi Action Figure, Karya Pemuda Batang Ini Laku hingga Singapura

Beberapa kritik terhadap kebijakan beras atau kebijakan ketahanan pangan (dalam banyak kasus hanya melanjutkan kebijakan era Soeharto) adalah bahwa kebijakan tersebut lebih banyak biasnya terhadap kepentingan konsumen, bukan pada kepentingan petani. Hal ini sebenarnya bisa dimaklumi mengingat sebagian besar petani kita adalah net comsumer dimana mereka lebih banyak mengkonsumsi daripada memproduksi. Mayoritas petani Indonesia atau sekitar 75 persen adalah buruh tani atau hanya petani kecil yang kepemilikan lahannya kurang dari 0,5 hektar.

Ke depan, kebijakan terkait pertanian dan ketahanan pangan harus memposisikan petani sebagai sentral. Salah satunya adalah melalui pelaksanaan reformasi pertanian dengan meningkatkan akses petani terhadap lahan dan air, yang hal tersebut sejak awal dicanangkannya tidak terlaksana dengan baik. Kebijakan beras atau ketahanan pangan pemerintah yang selama ini ditempuh seringkali hanya dibuat pada tingkat nasional, padahal permasalahannya sendiri terdapat pada tingkat lokal atau rumah tangga (daya beli).

Selain itu, permasalahan lainnya adalah kebijakan yang diambil cenderung hanya bersifat reaktif dari segi waktu, lambat, dan ad hoc. Fenomena banyaknya pengusaha besar yang terjun ke bidang pertanian, termasuk pertanian pangan, menunjukkan bahwa sektor pertanian termasuk pertanian pangan, justru sangat berpotensi untuk dikembangkan.

Bahkan, bukan tidak mungkin jika krisis pangan global
serta kenaikan harga pangan dan kodomitas di pasar global saat ini dapat dijadikan momentum kebangkitan sektor pertanian Indonesia. Hal ini penting mengingat peran strategis sektor pertanian dalam perekonomian. Terlebih lagi, 44 persen penduduk kita bergantung secara langsung dan tidak langsung pada sektor ini untuk kehidupan mereka.

Seperti yang kita lihat sektor pertanian memang memainkan peran penting dalam mengentaskan kemiskinan di pedesaan, sebagai penyedia makanan dan bahan baku industri, menyediakan lapangan kerja, menghasilkan devisa, serta menopang stabilitas makroekonomi. Jika tidak sekarang sektor pertanian dikembangkan, apakah harus tunggu krisis pangan berikutnya untuk mau mengembangkan? ***


Penulis: Devika Dyah Kusumawati, mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Halaman:

Editor: arri widiarto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Lomba Justifikasi

Kamis, 15 September 2022 | 07:46 WIB

Pemilik Frequensi dan Pelengkap Penderita

Sabtu, 30 Juli 2022 | 14:38 WIB

Di Balik Ego dan Kolektivitas Etnis

Kamis, 7 Juli 2022 | 11:08 WIB

Mudik, Thomas Cup, dan Sea Games

Senin, 16 Mei 2022 | 19:23 WIB

Kebijakan Cukai Minuman Berpemanis di Indonesia

Senin, 25 April 2022 | 19:43 WIB

Efisienkah Tilang Elektronik di Kota Solo?

Senin, 25 April 2022 | 19:30 WIB

Menyoal Kenaikan Harga Pertamax

Senin, 25 April 2022 | 13:59 WIB

PPN Naik Menjadi 11%, Tepatkah Kebijakan Ini?

Senin, 25 April 2022 | 12:43 WIB

Kripto Untuk Siapa?

Senin, 18 April 2022 | 11:26 WIB
X