Banjir Rob Semarang, Early Warning System dan Penurunan Tanah

- Kamis, 26 Mei 2022 | 18:56 WIB
Nila Ardhianie, Direktur Amrta Institute forwater literacy, mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro. (Dok Pribadi)
Nila Ardhianie, Direktur Amrta Institute forwater literacy, mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro. (Dok Pribadi)

AYOSEMARANG.COM- Pengamatan lapangan pada hari ketiga setelah terjadinya tanggul penahan air laut jebol akibat tidak mampu menahan air yang cukup besar, menunjukkan bahwa genangan banjir masih terlihat di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Kota Semarang.

Beberapa faktor berkontribusi pada terjadinya banjir besar tersebut, dan fokus pada tanggul jebol sebagai penyebab banjir dapat membuat kita lengah dalam penanganan bencana ke depan.

Setidaknya ada empat faktor yang terkait dengan besarnya dampak banjir rob yang terjadi di Semarang yaitu: 1) early warning system yang tidak optimal, 2) kualitas kontruksi dan pemeliharaan tanggul, 3) penurunan tanah, dan 4) hal yang terkait dengan air laut baik ketinggian air laut, kecepatan gelombang dan lainnya. Faktor keempat merupakan kompetensi dan kewenangan dari badan-badan terkait.

Baca Juga: Link untuk Cek Daftar Penerima BSU Rp1 Juta, Ciri Pekerja yang akan Dapat BLT

Pertama, sistem peringatan dini sudah ada dan berjalan. BMKG terus melakukan prediksi cuaca dan membuat peringatan. Pertanyaannya adalah apakah sosialisasinya berjalan efektif, semua pihak yang potensial terkena dampak sudah memperoleh informasi? Kalau semua pihak sudah memperoleh, apakah mereka mengabaikan peringatan tersebut atau ada hal lain yang terjadi.

Video yang beredar sesaat setelah tanggul jebol yang menggambarkan para pekerja berlarian dari tempat kerja mereka dan banyak yang menuntun sepeda motor yang terendam total air laut menunjukkan peringatan tersebut tidak berjalan optimal.
Di beberapa negara, sistem peringatan dini yang dipatuhi dengan baik membawa manfaat besar. Saat penduduk yang potensial terkena dampak mendapat peringatan, mereka bekerja dari rumah untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Kedua, faktor tanggul yang terkait dengan kualitas material dan metode yang digunakan saat konstruksi. Dengan kata lain, pada saat dibuat tanggul didesain untuk mampu menahan gelombang laut setinggi apa, kecepatan berapa dan hal-hal teknis lainnya. Informasi tersebut sangat penting diikutsertakan dalam setiap pengambilan keputusan.

Hal ini juga terkait dengan pemeliharaan tanggul yang harus sesuai dengan desain dan konstruksi awal dan perubahan lingkungan yang terjadi. Apakah dilakukan pemeliharaan berkala yang sesuai atau tidak. Biasanya kerusakan besar pasti sudah memiliki indikasi berupa kerusakan-kerusakan kecil terlebih dahulu.

Ketiga, penurunan tanah adalah fenomena yang terjadi di berbagai kota pesisir di dunia. Salah satu hasil penelitian terbaru tahun 2022 dari Pei-Chin Wu, Meng (Matt) Wei, dan Steven D’Hondt dengan judul “Subsidence in coastal cities throughout the world observed by InSAR” menyimpulkan bahwa Semarang adalah kota dengan laju penurunan tanah tercepat kedua diantara 99 kota tepi pantai yang diteliti.

Halaman:

Editor: arri widiarto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Lomba Justifikasi

Kamis, 15 September 2022 | 07:46 WIB

Pemilik Frequensi dan Pelengkap Penderita

Sabtu, 30 Juli 2022 | 14:38 WIB

Di Balik Ego dan Kolektivitas Etnis

Kamis, 7 Juli 2022 | 11:08 WIB

Mudik, Thomas Cup, dan Sea Games

Senin, 16 Mei 2022 | 19:23 WIB

Kebijakan Cukai Minuman Berpemanis di Indonesia

Senin, 25 April 2022 | 19:43 WIB

Efisienkah Tilang Elektronik di Kota Solo?

Senin, 25 April 2022 | 19:30 WIB

Menyoal Kenaikan Harga Pertamax

Senin, 25 April 2022 | 13:59 WIB

PPN Naik Menjadi 11%, Tepatkah Kebijakan Ini?

Senin, 25 April 2022 | 12:43 WIB

Kripto Untuk Siapa?

Senin, 18 April 2022 | 11:26 WIB
X